PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sebelum kita membahas tentang filsafat helenisme atau
filsafat masa helenistik romawi, akan lebih baik apabila kita memahami tentang
apa itu filsafat dan apa itu helenisme, agar dalam pembahasan ini dapat
difahami secara sistematis dan secara kronologis.
Berbicara tentang filsafat, sebenarnya kita sedang berbicara
mencari hakikat sesuatu. Dan sesuatu inilah yang pada akhirnya menjadi obyek
pembahasan filsafat, yaitu hakikat Tuhan, hakikat Manusia dan hakikat
Alam. Diawali dari rasa ingin tahu akan hakikat sesuatu, dan rasa ketidak
pastian atau ragu-ragu, seseorang secara terus menerus berfikir untuk mencari
jawabannya. Maka upaya seseorang untuk mencari hakikat inilah sebenarnya ia
sedang berfilsafat.
Kata filsafat, yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah
falsafah dan dalam bahasa Inggris dengan istilah Philosophy yang biasanya
diterjemahkan sebagai “cinta kearifan”.Kata tersebut
juga berasal dari bahasa Yunani philosophia. Kata philosophia terdiri atas kata
philein yang berarti cinta (love) atau philos yang berarti mencintai,
menghormati, menikmati, dan Sophia atau sofein yang artinya kehikmatan,
kebenaran, kebaikan atau kebijaksanaan Jadi arti menurut namanya saja : cinta
kepada kebijaksanaan.
Sedangkan istilah Hellenistik (berasal dari kata Ἕλλην / Héllēn,
istilah yang dipakai secara tradisional oleh orang Yunani sendiri untuk menyebutkan nama
etnik mereka) mula-mula dipakai oleh ahli sejarah Jerman, Johann Gustav Droysen merujuk pada penyebaran peradaban Yunani pada bangsa bukan
Yunani yang ditaklukkan oleh Aleksander Agung.
Menurut Droysen, peradaban Hellenistik adalah fusi/gabungan dari peradaban
Yunani dengan peradaban Timur Dekat. Pusat
kebudayaan utama berkembang dari daratan Yunani ke Pergamon, Rhodes, Antioch dan Aleksandria/Iskandariyah.
BAB
II
PEMBAHASAN
1)
FILSAFAT
MASA HELENISME ROMAWI
A.
Pengertian
Hellenisme / Hellenistik
Bertens (1993) berpendapat,
mempelajari filsafat Yunani berarti menyaksikan kelahiran filsafat. Dimana
banyak sekali bermunculan tokoh-tokoh pemikir sekaligus filosof yang lahir
dalam “Dunia Yunani”, baik yang terkenal hingga mereka yang kurang terkenal
dalam pemikirannya. Filosof yang terkenal kebanyakan dari mereka adalah yang
menuliskan pemikirannya, seperti Aristoteles dengan tulisan-tulisannya. Meski
adapula Filosof yang tidak menulis sebarispun seperti Thales, Phytagoras, dan
Sokrates.[1]
Zaman sesudah Aristoteles memang zaman yang berbeda sekali
dengan zaman Aristoteles. Zaman ini adalah zaman yang baru, yang dimulai dengan
pemerintahan Aleksander Agung yaitu murid dari Aristoteles, dan disebut zaman
Helenisme. Helenisme berasal dari kata Hellenizein (= berbahasa Yunani,
dan juga menjadikan Yunani) sebagai roh dan kebudayaan Yunani sepanjang roh dan
kebudayaan itu memberikan ciri-cirinya kepada para bangsa yang bukan Yunani
disekitar lautan tengah, mengadakan perubahan-perubahan dibidang kesusasteraan,
agama, dan keadaan bangsa-bangsa itu.[2]
Dalam perkembangan masa Helenisme ini ditandai dengan
perubahan bentuk filsafat dari filsafat teoritis menjadi filsafat praktis dan
membuat filsafat menjadi bagian dari seni hidup. Berbagai aliran yang muncul
pada saat itu yang semuanya bertujuan untuk menentukan cita-cita hidup manusia.
Keinginan memperoleh pengetahuan teori semakin beralih kepada ilmu-ilmu
spesial. Makin mendalam penyelidikan ini dan makin tampak gunanya bagi
penghidupan sehari-hari, akan tetapi orang makin acuh tak acuh terhadap
teori-teori metafisika umum.
B.
Latar
Belakang Historis Hellenisme
Pemerintahan Aleksander merupakan
pemerintahan yang kuat dan memiliki banyak daerah taklukan. Dalam waktu sepuluh
tahun sejak 334 hingga 324SM ia menaklukkan Asia Kecil, Siria, Mesir,
Babilonia, Persia, Samarkand, Bactria, dan Punjab, dimana pada setiap daerah
taklukan ia selalu mendirikan kota Yunani dan mencoba mereproduksi
lembaga-lembaga Yunani, disertai upaya pemerintahan sendiri. Berangsur-angsur
ketika kawasan yang ia taklukkan kian meluas, ia memberlakukan kebijakan yang
menganjurkan pembauran secara damai antara bangsa Yunani dan bangsa Barbar, hal
ini dapat mengacu pada beberapa faktor, diantaranta:
a.
Pasukan Aleksander tidak terlampau
besar jumlahnya, tidak mungkin selamanya mempertahankan kekuasaan imperium yang
sangat luas itu dengan jalan kekerasan, melainkan dalam waktu panjang, akan
tergantung pada kerukunan dengan rakyat yang ditaklukkan.
b.
Bangsa Timur tidak terbiasa dengan
pemerintahan apapun kecuali pemerintahan oleh seorang dewa-raja, yang oleh
Aleksander dirasakan tepat untuk dibawakannya sendiri.[3]
Pemerintahan Aleksander menerima orang-orang Makedonia
sebagai panglima pasukannya, bahkan memberikan sebutan “sahabat” untuk mereka. Para
“sahabat” ini yang kemudian memberikan masukan saran dan kritik dan mengambil
andil yang “berpengaruh” dalam pemerintahan Aleksander. Mereka yang memaksa
Aleksander untuk lebih baik kembali setelah menaklukkan kawasan sungai Indus
dan bukan meneruskan perjalanan untuk menaklukkan kawasan sungai Gangga.[4]
Anggapan bahwa bangsa Yunani adalah bangsa yang lebih unggul
derajatnya daripada bangsa Barbar pernah diungkapkan pada sebuah ungkapan
pandangan umum yang menyatakan ras utara bersemangat, ras selatan beradab,
namun hanya bangsa Yunananilah yang penuh semangat sekaligus beradab. Plato dan
Aristoletes berpendapat bahwa tidak selayaknya bangsa Yunani dijadikan budak,
namun mereka tidak berpendapat demikian mengenai bangsa Barbar.
terpelajar. Sikap inipun menciptakan hasil berupa hubungan
timbal balik antara bangsa Yunani dan bangsa Barbar. Orang Barbar memetik
sesuatu hal dari ilmu pengetahuan Yunani, sedangkan orang Yunani mendapat
banyak pelajaran dari takhayul bangsa Barbar. Peradaban Yunani, setelah menjangkau
wilayah lebih luas, menjadi tidak sepenuhnya Yunani. Pembauran serta penerimaan
budaya yang berbeda, namun masih Yunani (mengadopsi budaya Yunani) inilah yang
dikenal dengan Helenisme, sebuah paham “ke-Yunani-an” yang menerima bangsa lain
dalam kehidupan bermasyarakatnya dibawah pemerintahan Aleksander.[5]
C.
Perkembangan
dalam Dunia Filsafat
Hellenisme di bagi menjadi dua fase,
yaitu fase Hellenisme dan fase Hellenisme Romawi. Fase Hellenisme adalah fase
yang ketika pemikiran filsafat hanya dimiliki oleh orang-orang Yunani. Adapun
fase Hellenisme Romawi ialah fase yang sudah datang sesudah fase hellenisme,
dan meliputi semua pemikiran filsafat yang ada pada masa kerajaan romawi, yang
ikut serta membicarakan peninggalan pikiran Yunani, antara lain pemikiran
Romawi di barat dan di timur yang ada di mesir dan di siria. Fase ini dimulai
dari akhir abad ke-4 sebelum masehi sampai pertengahan abad ke-6, Masehi di
Bizantium dan roma, atau sampai masa penerjemahan di dunia arab.
Pada masa ini, aliran-aliran etis yang menekankan pada
persoalan-persoalan tentang kebijaksanaan hidup yang praktis disamping itu juga
ada aliran-aliran yang diwarnai pemikiran keagamaan. Jadi, secara garis
besarnya sifat filsafat sesudah Aristoteles atau pada masa Helenisme dapat dibagi
menjadi dua, masa Etik dan masa Religi. Yang termasuk aliranyang bersifat Etis
diantaranya adalah aliran Stoa, Epikorus, dan Skeptis. Sedangkan yang termasuk
aliran yang diwarnai agama diantaranya adalah filsafat Neo-Pythagoras, filsafat
Plotinus Tengah, filsafat Yahudu dan Neoplatonisme.
1) PERIODE ETIK
Periode ini terdiri dari tiga
sekolah filsafat, yaitu Epikuros, Stoa dan Skeptis. Nama sekolah yang pertama
diambil dari kata pembangun sekolah itu sendiri, yaitu Epikuros. Adapun nama
sekolah yang kedua diambil dari kata”stoa” yang berarti ruang. Sedangkan nama
skeptis diberikan karena mereka kritis terhadap para filosof klasik sebelumnya.
Ajarannya dibangun dari berbagai ajaran lama, kemudian dipilih dan disatukan.
Untuk lebih jelasnya, dari ketiga macam sekolah tersebut, pemakalah akan
merincinya satu-persatu.
a.
Epikuros
(341 SM)
Epikuros dilahirkan di samos pada
tahun 341 SM. Pada tahun 306 ia mulai belajar di Athena, dan di sinilah ia
meninggal pada tahun 270. Filsafat Epikuros diarahkan pada satu tujuan belaka;
memberikan jaminan kebahagiaan kepada manusia. Epikuros berbeda dengan
Aristoteles yang mengutamakan penyelidikan ilmiah, ia hanya mempergunakan
pengetahuan yang diperolehnya dan hasil penyelidikan ilmu yang sudah ia kenal,
sebagai alat untuk membebaskan manusia dari ketakutan agama.
Yaitu rasa takut terhadap dewa-dewa
yang ditanam dalam hati manusia oleh agama Grik lama. Menurut pendapatnya
ketakutan kepada agama itulah yang menjadi penghalang besar untuk memperoleh
kesenangan hidup. Dari sini dapat diketahui bahwa Epikuros adalah penganut
paham Atheis.[6]
Dari ketiga ajaran Epikuros, jika diaktualisasikan ke dalam
agama Islam maka akibatnya bisa fatal sekali. Seorang muslim akan menjadi
atheis ketika mengikuti ajaran Epikuros ini. Di sinilah bahaya filsafat jika
kita telan mentah-mentah tanpa ada proses penyaringan terlebih dahulu. Apalagi
jika tidak dilandasi dengan akidah yang kuat.
b.
Stoa (340
SM)
Pendirinya adalah Zeno dari Kition.
Ia dilahirkan di Kition pada tahun 340 sebelum Masehi. Awalnya ia hanyalah
seorang saudagar yang suka berlayar. Suatu ketika kapalnya pecah di tengah
laut. Dirinya selamat, tapi hartanya habis tenggelam. Karena itu entah mengapa
ia berhenti berniaga dan tiba-tiba belajar filsafat. Ia belajar kepada Kynia
dan Megaria, dan akhirnya belajar pada academia di bawah pimpinan Xenokrates,
murid Plato yang terkenal.
Menurut kaum Stoa, logika maksudnya memperoleh kriteria
tentang kebenaran. Dalam hal ini, mereka memiliki kesamaan dengan Epikuros. Apa
yang dipikirkan tak lain dari yang telah diketahui pemandangan. Buah pikiran
benar, apabila pemandangan itu kena, yaitu memaksa kita membenarkannya.
Pemandangan yang benar ialah suatu pemandangan yang menggambarkan barang yang
dipandang dengan terang dan tajam. Sehingga orang yang memandang itu terpaksa
membanarkan dan menerima isinya.
Inti dari filsafat Stoa adalah etiknya. Maksud etiknya itu
ialah mencari dasar-dasar umum untuk bertindak dan hidup yang tepat. Kemudian
malaksanakan dasar-dasar itu dalam penghidupan. Pelaksanaan tepat dari
dasar-dasar itu ialah jalan untuk mengatasi segala kesulitan dan memperoleh
kesenangan dalam penghidupan. Kaum Stoa juga berpendapat bahwa tujuan hidup
yang tertinggi adalah memperoleh “harta yang terbesar nilainya”, yaitu
kesenangan hidup. Kemerdekaan moril seseorang adalah dasar segala etik pada kaum
Stoa.
c.
Skeptis
Skeptis artinya ragu-ragu. Mereka
ragu-ragu untuk menerima ajaran-ajaran yang dari ahli-ahli filsafat sebelumnya.
Perlu diperhatikan bahwa skeptisisme sebagai suatu filsafat bukanlah sekedar
keragu-raguan, melaiankan sesuatu yang bsa disebut keraguan dogmatis.
Seorang ilmuwan mengatakan, “saya
kira masalahnya begini dan begitu, tetapi saya tidak yakin.” Seorang yang
memiliki keingintahuan intelektual berujar, “saya tidak tahu bagaimana
masalahnya, tetapi saya akan berusaha mengetahuinya.” Seorang penganut Skeptis
filosofis mengatakan, “tak seorang pun yang mengetahui, dan tak seorang pun
yang akan bisa mengetahui.” Ini merupakan unsur dogmatisme yang menyebabkan
sistem tersebut lemah. Kaum Skeptis, tentu saja, membantah bahwa mereka secara dogmatis
menekankan mustahilnya pengetahuan, namun bantahan mereka tidak meyakinkan.[7]
·
Skeptis
Pyrrhon
Skeptisisme sebagai ajaran dari
berbagai madzhab, dikemukakan pertama kali oleh Pyrrhon, yang pernah menjadi
seradu dalam pasukan Alexandros, dan pernah bertugas bersama pasukan itu sampai
ke India. Sampai di India ia mempelajari mistik India. Tidak begitu mendalam,
tatapi cukup baginya untuk menentukan jalan pikirannya. Tatkala ia kembali ke
Elis, kota tempat ia lahir, didirikannya sekolah filsafat.
Muridnya cukup banyak. Ia sendiri
tidak pernah menuliskan filsafatnya. Tatapi ajarannya itu diketahui orang dari
uraian-uraian para pengikutnya.
- Skeptis Akademia
Kaum Skeptis aliran Arkesilaos
berpendapat bahwa cita-cita orang bijaksana ialah bebas dari berbuat salah.
Kaum Epikuros dan Stoa mengatakan bahwa memperoleh kebenaran yang
sungguh-sungguh dengan membentuk dalam pikiran hasil pandangan. Menurut
Arkesilaos yang seperti itu tidak mungkin. Kriteria daripada kebenaran tidak
dapat diperoleh dari pikiran manusia. Sedangkan pikiran berdasarkan kepada
bayangan saja, barang-barang yang dipikirkan itu pada dasarnya tidak dapat
dikenal.
Meskipun sekolah ini didirikan oleh Plato, tetapi
generasinya tidak lagi mengusung ajaran-ajaran Plato. Para pengikut Plato, terutama
di bawah pengaruh Arkesilaos lebih mengutamakan ajaran Plato yang bersifat
negatif. Ajaran Arkesilaos berpangkal kepada ajaran Plato yang mengatakan bahwa
dunia yang kelihatan ini adalah gambaran saja dari yang asli, bahwa pengetahuan
yang didapat dari penglihatan dan pemandangan adalah bayangan pengetahuan,
bukan gambaran dari pengetahuan yang sebenarnya. Pengetahuan yang sebenarnya
tidak tercapai oleh manusia.
2)
PERIODE
RELIGI
Pada masa etik, agama itu dianggap
sebagai sesuatu belenggu yang menanam rasa takut dalam hati manusia. Karena itu
agama dipandang sebagai suatu penghalang untuk memperoleh kesenangan hidup. Dan
tujuan filsafat menurut Epikuros dan Stoa harus merintis jalan ke arah mencapai
kesenangan hidup.
Didorong oleh perasaan dan keadaan bangsa Yunani dan bangsa
lainnya yang senantiasa merasa tertekan di bawah kekuasaan kerajaan Roma, maka
ajaran Etik tidak dapat memberikan jalan keluar. Kemudian perasaan agamalah
yang akhirnya muncul sesudah beberapa abad terpendam dapat mengobati jiwa yang
terluka. Mulai dari sinilah pandangan filsafat berbelok arah, dari otak turun
ke hati.
Ø
Aliran Neo
Pythagoras
Dinamakan Neo Pyithagoras karena ia
berpangkal pada ajaran Pyithagoras yang mendidik kebatinan dengan belajar
menyucikan roh. Yang mengajarkannya ialah mula-mula ialah Moderatus dan Gades,
yang hidup dalam abad pertama tahun masehi. Ajaran itu kemudian diteruskan oleh
Nicomachos dari Gerasa.[8]
Ø Philon Alexandreia
Alexandria terletak di Mesir. Di
sana bertemu antara filsafat Yunani yang bersifat intelektualis dan rasionalis,
dan pandangan agama kaum Yahudi yang banyak mengandung mistik. Pencetusnya
adalah Philon. Ia hidup dari 25 SM, sampai 45 M. ia mencapai umur 70 tahun.
Yang menjadi pokok pandangan filsafatnya ialah hubungan
manusia dengan Tuhan. Baginya Tuhan itu Maha Tinggi tempatnya. Tuhan hanya
dapat diketahui oleh kata-kata-Nya yang terdapat dalam kitab suci, dari alam
dan dari sejarah. Tuhan sendiri tidak dapat diketahui oleh manusia dengan panca
inderanya.
D.
Berakhirnya
Masa Kejayaan Helenisme
Setelah kematian Aleksander, ada
upaya untuk mempertahankan kesatuan imperiumnya. Namun terjadi perang saudara
dalam pemerintahan setelahnya yang kemudian terpecah menjadi dua, yakni dinasti
Ptolemeus dan Scleucid (sebutan bagi dinasti Seleucus) dimana keduanya tak
mampu melanjutkan upaya Aleksander untuk melakukan pembauran antara bangsa
Yunani dan Barbar, dan mereka mendirikan tirani militer yang pertama-tama dilandaskan
pada kekuatan pasukan Makedonia yang berada di pihaknya masing-masing,
diperkuat oleh serdadu bayaran dari Yunani.
Beberapa
peninggalan yang dapat dilihat sesudah “keruntuhan” Helenisme diantaranya
adalah:[9]
a)
Sebelum timbulnya masa Helenisme,
fikiran masyarakat Yunani hanya terbatas pada cerita-cerita agama yang dibawa
oleh para agamawan. Mereka hanya menelan mentah semua yang diajarkan oleh
pendeta itu tanpa memikirkan apakah itu benar atau tidak. Setelah masuk pada
masa Helenisme mulailah timbul pemikir/ filosof-filosof yang mempertanyakan hal
itu. Mereka lalu membagi hal yang bersifat ghaib dan yang bersifat rill. Namun
sayangnya mereka belum mampu mencapai tingkat yang lebih tinggi, yaitu
“siapakah yang awal?
b)
Mesopotamia, maupun wilayah Barat
yang lebih jauh, bahasa Yunani menjadi bahasa sastra dan kebudayaan, dan tetap
demikian sampai saatnya ditaklukkan oleh dunia Islam.
c)
Berdirinya kota Aleksandria sebagai
keberhasilan paling gemilang pada abad ke-3 SM yang menjadi pusat perkembangan
matematika dan tetap demikian hingga masa keruntuhan Romawi.
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Pemikiran filsafat helenisme adalah filsafat Yunani untuk
mencari hakikat sesuatu atau sebuah pemikiran untuk mencari suatu kebenaran
yang terjadi pada masa Yunani kuno. Yaitu pada masa Aleksander The Great
(Aleksander Agung) yang menggabungkan peradaban Yunani dengan peradaban Timur.
Hellenisme di bagi menjadi dua fase, yaitu fase Hellenisme
dan fase Hellenisme Romawi. Fase Hellenisme adalah fase yang ketika pemikiran
filsafat hanya dimiliki oleh orang-orang Yunani. Adapun fase Hellenisme Romawi
ialah fase yang sudah datang sesudah fase hellenisme, dan meliputi semua
pemikiran filsafat yang ada pada masa kerajaan romawi, yang ikut serta
membicarakan peninggalan pikiran Yunani.
Pola fikir filsafat helenisme Yunani pada masa Aleksander
Agung, diantaranya : Dari periode Etik yaitu Epikuros, Stoa, dan
Skeptis. Dan dari periode Religi yaitu Neo Pythagoras, Philon dan
Plotinus. Berikut penjelasannya secara ringkas.
- Epikuros:Ia adalah filosof yang memuja kesenangan hidup, ia
menafikan dan menihilkan peran Tuhan di dunia. Menurutnya Tuhan hanya
menjadi penghalang untuk menikmati kesenangan hidup di dunia. Karena itu,
Epikuros adalah salah satu filosof yang beraliran atheis.
- Stoa:Tujuan utama dari ajaran Stoa adalah menyempurnakan
moral manusia. Kriterianya tentang kebenaran relatif sama dengan Epikuros
yang mengatakan bahwa pemandangan adalah kriteria setinggi-tingginya untuk
mencapai kebenaran.
- Skeptis:Mereka adalah madzhab filsafat yang ragu-ragu terhadap
ajaran-ajaran klasik. Menurut mereka, kebenaran tidak dapat diduga. Dan
untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang salah dalam pertentangan
pendapat yang begitu banyak, perlulah ada suatu kriteria tentang
kebenaran. Kriteria itulah yang tidak ada.
- Aliran Neo Phytagoras:Ajarannya berpangkal pada Pythagoras yang mendidik
kebatinan dengan belajar menyucikan roh. Mereka juga meyakini bahwa jiwa
ini akan hidup selama-lamanya dan pindah-pindah dari angkatan makhluk
turun temurun. Kepercayaan inilah yang disebut dengan rinkarnasi.
- Aliran Philon Alexandreia:Ia adalah seorang pendeta Yahudi, karenanya filsafat
yang dipelajarinya terpengaruh oleh pandangan agama. Yang menjadi pokok
pandangan filsafatnya ialah hubungan manusia dengan Tuhan.
DAFTAR PUSTAKA
·
Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, 1,
(Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 1
·
syafieh, M.Phil.I dan Ismail Fahmi
Arrauf, MA, Filsafat Umum Sebuah Pengantar, (Bandung: Citapustaka Media
Perintis), hlm. 6
·
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat
Ilmu,Jakarta : Surya Multi Grafika, 2005
·
K Bertens. 1993. Sejarah Filsafat
Yunani. Yogyakarya: Penerbit Kanisius.
·
Beni Ahmad Saebani, M.Si. Filsafat
Umum Dari Metologi sampai Teofilosofi (Bandung CV PUSTAKA SETIA,2008) hal.,
98
[2]
M.syafieh, M.Phil.I dan Ismail Fahmi Arrauf, MA, Filsafat
Umum Sebuah Pengantar, (Bandung: Citapustaka Media Perintis), hlm. 6
[3]
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Jakarta
: Surya Multi Grafika, 2005
[4]
K Bertens. 1993. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarya:
Penerbit Kanisius.
[5] Dedi
Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam, Bandung : Pustaka setia, 2009
[6]
Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat; dan
kaitannya dengan kondisi sosio-politik dari zaman kuno hingga
sekarang, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004, cet. 2.
[8]
Drs. Beni Ahmad Saebani, M.Si. Filsafat Umum Dari
Metologi sampai Teofilosofi (Bandung CV PUSTAKA SETIA,2008) hal., 98
Tidak ada komentar:
Posting Komentar