BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Islam
masuk ke Asia Tenggara disebarluaskan melalui kegiatan kaum pedagang dan para
sufi. Hal ini berbeda dengan daerah Islam di dunia lainnya yang disebarluaskan
melalui penaklukan Arab dan Turki. Islam masuk di Asia Tenggar dengan jalan
damai, terbuka dan tanpa pemaksaan sehingga Islam sangat mudah diterima
masyarakat Asia Tenggara.
Mengenai
kedatangan Islam di negara-negara yang ada di Asia Tenggara hampir semuanya
didahului oleh interaksi antara masyarakat di wilayah kepulauan dengan para
pedagang Arab, India, Bengal, China, Gujarat, Iran, Yaman, dan Arabia Selatan.
Pada abad ke-5 sebelum Masehi kepulauan Melayu menjadi tempat persinggahan para
pedagang yang berlayar ke China dan mereka telah menjalin hubungan dengan
masyarakat sekitar pesisir. Kondisi seperti inilah yang dimanfaatkan para
pedagang Muslim yang singgah untuk menyebarkan Islam pada warga sekitar
pesisir.
Asia
Tenggara sebagai wilayah yang paling banyak pemeluk agama Islam. Termasuk
wilayah ini adalah pulau-pulau yang terletak di sebelah timur India sampai
lautan China dan mencangkup Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
Namun
proses masuknya Islam di negara-negara bagian Asia Tenggara tidak sepenuhnya
sama. Semuanya memiliki karakterisitik masing-masing budaya yang sama sekali
berbeda, ada juga negara yang sudah menggunakan tradisi Islam ala Persia dan
Islam ala Arab. Oleh karena itu muncullah beberapa hal yang melatarbelakangi
proses berkembangnya Islam di Asia Tenggara melalui proses saluran, diantaranya
saluran perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, seni, dan politik.
BAB
II
PEMBAHASAN
B.
Peradaban Islam
Di Asia Tenggara
Asia Tenggara adalah
wilayah yang dilalui oleh ekuator dan sebagian bentangannya tertutup oleh hutan
rimba tropis serta hamparan dataran rendahnya terletak di jalur aliran dan
delta sungai besar. Bila dilihat dari segi geopolitik, saat ini Asia Tenggara
terdiri atas 11 negara yakni : Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura,
Filipina, Brunei Darussalam, Myanmar, Vietnam, Laos, Kamboja, dan Timor Leste
(timor-timur). Sepuluh diantaranya telah resmi menjadi anggota ASEAN, sedang
Timor Leste masih menjadi anggota peninjau.
C.
Negara-negara Mayoritas Muslim
1.
Malaysia
Malaysia
dengang ibu kotanya Kuala Lumpur, memiliki luas wilayah seluas 32.370 km2.
Secara birokrasi, Kepala Negara Malaysia dikenal dengan istilah yang Dipertuan
Agung serta pemerintahannya dekepalai oleh Perdana Mentri. Sebagai negara
persekutuan, Malaysia baru terbentuk pada tahun 1963 dengan model pemerintahan
yang mirip dengan system parlemen Westminister.
Suku
Melayu merupakan suku dengan populasi terbesar di Malaysia atau sekitar 61%
dari total jumlah penduduk, sehingga bahasa Melayu dan agama Islam
masing-masing menjadi bahasa dan agama resmi negara.Islam masuk di Malaysia
pada abad ke-9 melalui Malaka, berkat jasa para pedagang dari Gujarat yang
mempunyai semngat tinggi dalam menyiarkan dan mengembangkan Islam. Kerajaan-kerajaan
Melayu, dalam sejarah dikenal sebagai kerajaan Islam, juga berperan dalam
masuknya Islam di Malaysia.[1]
Namun
menurut Hamka, ada tiga teori masuknya Islam di Malaysia. Teori-teori tersebut
berkenaan dengan asal usul pendakwah yang menyebutkan agama Islam serta proses
yang dilalui sehingga penyebaran Islam dirasa sangat berkesan. Teori pertama, Hamka cenderung
berpendapat bahwa agama Islam telah diperkenalkan di wilayah ini pada awal abad
Hijriah (abad ke-7 M). Pendapat ini berdasarkan kajian yang dilakukan dengan
merujuk sumber Cina, dan bersandar pada tulisan seorang sarjana Barat, yaitu
T.W. Arnold yang mengaitkan penyebaran Islam dengan peranan para pedagang Arab.
Teori kedua, yaitu para penyebar
Islam menurut T.W. Arnold tidak datang sebagai penaklukdengan menggunakan
pedang untuk menyebarkan Islam, sebagaimana yang terjadi di wilayah Timur Tengah,
Asia Selatan dan Afrika. Mereka juga tidak menguasai hak-hak penguasa untuk
menekan rakyat. Teori ketiga, yaitu
proses perubahan kebudayaan tidak akan berlaku jika tidak ada titik-titik
kesamaan yang saling menghubungkan. Begitu juga yang terjadi pada Islam dan
kebudayaan Malaysia. Seandainya Islam menghapuskan segala kebudayaan dan
tradisi yang wujud sebelumnya mungkin tidak akan menemukan tempat untuk
memasuki pulau-pulau di kawasan ini.
Menurut
sejarah Malaysia lain, Islam masuk ke Malaysia sebelum abad ke-12. Hal ini
berbeda dengan pendapat penulis Barat yang mengatakan bahwa Islam masuk ke
Malaysia sekitar abad ke-13 atau ke-14. Penulis Malaysia mendasarkan
pendapatnya pada mata uang dinar emas yang ditemukan di Klantan tahun 1914.
Bagian pertama mata uang itu bertuliskan al-julus
Kelantan dan angka arab 577 H, yang bersamaan dengan 1161 M. bagian kedua
bertuliskan al-Mutawakkil,gelar
pemerintahan Kelantan. Jika dilihat batu nisan tua bertuliskan bahasa Arab
ditemukan ke Kedah tahun 1963 pada makam Syekh Abdul Kadir bin Syekh Husen Syah
Alam (w.291 H). Sekitar tahun 1276 M, pada masa Sultan Muhammad Syah bertahta
di Malaka, datang sebuah kapal dari Jeddah yang dipimpin kapten kapal yang
bernama Sidi Abdul Aziz, seorang ulama Islam. Sidi Abdul Aziz menganjurkan Raja
Malaka saat itu yang telah diIslamkan mengganti namanya menjadi Sultan Muhammad
Syah. Bukti lain mengenai perkembangan Islam di Malaysia dapat dilihat pula
pada peninggalan sejarah di pertengahan abad ke-10 dan ke-15 misalnya,ketika
itu Brunei masih bergabung dengan Malaysia, salah satu sumber menyebutkan ada
enam mesjid di Malaysia dan ditemukan batu nisan silsilah keturunan raja-raja
Brunei.[2]
2.
Brunei
Perkebangan
Islam di Brunei tidak bisa terlepas dari Indonesia-yang mayoritas madzhab
Syafi’i. Hal itu terlihat dari madzhan resmi Negara tersebut, yaitu madzhab
Syafi’i. pengaruh yang nyata terhadap Negara Brunei adalah perkembangan Islam
yang terjadi di Kalimantan sebagai dijelaskan diawal. Bagi muslim Brunei, hokum
Islam sangat berpengaruh, terutama hukum keluarga yang bersumber pada madzhab
Syafi’i (tiga madzhab sunni lainnya setelah disetuji oleh sultan, tradisi kuno,
dan tradisi Melayu). Selain itu, secara fakta sejarah, Negara Brunei adalah
jajahan Inggris yang memberikan pengaruh besar terhadap konstitusi hukum di
Negara tersebut. Hal iti terbukti dari konstitusi Negara yang dibuat pada tahun
1959 dipengaruhi oleh inggris dengan system common
law, terutama system peradilan yang mengadopsi system inggris sejak tahun
1955. Pengaruh itu tidak hanya pada konstitusi negara, tetapi pada konstitusi
atau undang-undang hukum Islam sampai Brunei merdeka secarah penuh dari Inggris
pada tahun 1984.
“selama
kurun waktu abad ke-5 dan ke-16, negara Brunei menguasai pulau Borneo dan
beberapa pulau Kalimantan dan Filipina. Ekspansi Eropa yang datang dari Spanyol
dan Belanda, sejak abad ke-16 mencaplok sebagai wilayah Brunei. Pada Abad
ke-19, Brunei mencari bantuan ke Inggris dalam mempertahankan sebagian wilayah
tersebut. Sampai akhirnya, beberapa bagian negara Brunei dikuasai dan diatur
oleh Inggris yang diformalkan pada tahun 1906. Konstitusi ditegakkan pada tahun
1959 yang memberikan izin pengaturan saecara internal dan menetapkan lembaga
legislatif yang diatur oleh Inggris. Persetujuan berakhir pada tahun 1971 bahwa
Brunei bebas dari protokoler Inggris sampai negara tersebut merdeka pada tahun
1984.”
Meskipun
demikian, ketentuan hukum Islam yang mulai diundangkan pada tahun 1912 antara
Brunei dan Inggris dengan nama The
Mohammedan Laws Enactmen 1912, didasarkan pada kedua tradisi negara
tersebut dan hukum Islam. Perundangan ini meliputi aspek hukum keluarga dan
kriminal dan yurisdiksi hakim. Selanjutnya, diikuti dengan The Mohammed Marriage and Divorce Enactmen 1913 yang mengatur
tentang pendaftaran perkawinan dan perceraian melalui hakim pengadilan. Kedua
Undang-undang tersebut tidak berlaku lagi.[3]
Namun,
Islam baru resmi dijadikan sebgai agama negara 500 tahun kemudian semenjak Raja
Awang Alak Betatar yang semula beragama Hindu-Budha masuk Islam dan berganti
nama menjadi Muhammad Syah (1406-1408). Sebagaimana yang tercatum dalam batu
Tarsilah atau prasasti dari abad ke-18 M, perkembangan Islam semakin pesat
ketika kepemimpinan dipegang oleh Syarif Ali, menantu Raja Awang, yang diangkat
menjadi sultan ke-3 Brunei Darussalam pada tahun 1425. Sebagai raja dan ulama,
Syarif Ali gigih memperjuangkan Islam dengan membangun masjid dan penerapan
hukum Islam. Begitu pula ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis (1511) sehingga
banyak ahli agama Islam pindah ke Brunei.kemajuan dan perkembangan Islam
semakin nyata pada pemerintahan Sultan Bolkiah (sultan ke-5), yang wilayahnya
meliputi Suluk, Selandung, Kepulauan Suluk, Kepulauan Balabac sampai ke Manila.
Pendapat
lain mengatakan bahwa agama Islam masuk ke Brunei pada abd ke-15. Sejak itu,
Kerajaan Brunei berubah menjadi kesultanan Islam. Pada abad ke-16, Brunei
tergolong kuat di wilayahnya, dan daerah kekuasaanya meliputi pula beberapa
pulau di Filipna Selatan.[4]
Pada
masa Sultan Hassan (sultan ke-9 tahun 1582-1598), masyarakat Muslim di Brunei
memiliki institusi-institusi pemerintahan agama. Hal tersebut karena agama pada
saat tersebut dianggap memiliki peran penting dalam memandu negara Brunei
kearah kesejahteraan. Pada saat pemerintahan Hassan, undang-undang Islam, yaitu
hukum / qanun yang terdiri atas 46 pasal dan 6 bagian.
Pada
tahun 1658, Sultan Brunei menghadiahkan kawasan timur laut Kalimantan kepada
Sultan Sulu di Filipina Selatan sebagai penghargaan terhadap Sultan Sulu dalam menyelesaikan
perang saudara di antara Sultan Abdul Mubin dan Pangeran Mohidin. Persengketaan
dalam kerajaan Brunei merupakan salah satu faktor yang menyebabkan jatuhnya
kerajaan tersebut, yang bersumber dari pergolakan akibat perebutan kuasa antara
ahli waris kerajaan, juga timbulnya pengaruh kuasa penjajah Eropa yang
menggugat corak perdagangan tradisi, serta memusnahkan asas ekonomi dan
kesultanan Asia Tenggara yang lain.[5]
D.
Negara-negara
Minoritas Muslim
1.
Singapura
Secara
historis, sejak ditemukan oleh Sir Thomas Raffles dari British East India
Company pada tahun 1819 hingga kemerdekaanya pada tahun 1965, perkembangan
hukum Singapura sangat berhubungan erat dengan majikan kolonial Inggrisnya.
Seringkali, tradisi-tradisi hukum, kebiasaan-kebiasaan, kasus-kasua hukum, dan
perundang-undangan menurut hukum Inggris diserap tanpa banyak pertimbangan
apakah hal tersebut cocok dengan keadaan setempat Singapura.[6]
Namun
belum ada satu teori pasti yang dapat menjelaskan secara lengkap dan
menyakinkan bagaimana proses pengislaman di Singapura. Proses yang berlaku
serta situasi dan faktor-faktor lokal yang ditemui menyebabkan timbulnya
perbedaan dalam tingkat penetrasi Islam di berbagai wilayah di Asia Tenggara. Menurut
perkiraan, Islam masuk ke Singapura pada abag ke-8 ketika pedagang muslim aktif
berdagang di Malaka. Hal tersebut didasarkan pada temuan bahwa para pedagang muslim
telah sampai ke Kanton, Cina, yang sebelumnya bermukim di pulau-pulau yang
telah berpenduduk di semenanjung tanah Melayu. Di samping sebagai pedagang,
para muslim ini menjadi guru agama serta imam di tengah-tengah kelompok
masyarakat setempat. Mereka mengajarkan Al-Qur’an dan mendirikan
madrasah-madrasah sehingga orang-orang kampung senang ada kegiatan semacam itu,
dan tidak sedikit dari mereka yang pada akhirnya menikah dan memperintis
penduduk setempat.[7]
Singapura
yang saat ini berpenduduk 2.800.000 jiwa, sejak akhir abad ke-14 sampai pada
tahun 1511 M, menjadi wilayah bagian dari kerajaan Malaka. Parameswara yang
semula beragama Hindu, yang diusir Majapahit dari Tumasik kemudian mendirikan
kerajaan Malaka (1396-1414) dan merebut kembali daerah Tumasik (Singapura).
Akibat hubungan intim dengan pedagang-pedagang Muslim, Parameswara memeluk
agama Islam dan bergelar Sultan Iskandar Syah.[8]
Awal
abad ke-19, Singapura berada dibawah kekuasaan Sultan Johor, yang menetap di
kepulauan Riau-Lingga. Kombinasi tradisi Melayu dan hukum adat (yaitu hukum dan
kebiasaan tradisional yang secara lokal berlaku di Indonesia dan Malaysia)
telah membentuk dasar bagi system hukum awal yang berlaku bagi masyarakat
nelayan pada waktu itu yang jumlahnya tidak lebih dari 200 orang.
29
Januari 1819, pendirian Singapura modern oleh Raffles, yang pada saat itu
menjabat Letnan-Gubernur Bengkulu. Raffles sanggup meramal ke depan dan
menentukan bahwa Singapura merupakan lokasi yang strategis secara geopolitics.
Hal ini menjadikan Singapura sebagai kontrol yang sangat baik bagi Kerajaan
Inggris untuk mengawasi gerbang masuk menuju Selat Malaka dan rute pelayaran
utama antara Asia Selatan dan Asia Timur Laut secara cepat, Singapura telah
ber-revolusi menjadi pelabuhan dagang yang penting.
30
Januari 1819 : Raffles membuat suatu perjanjian awal dengan Temenggong Abdur
Rahman, perwakilan Sultan Johor di Johor dan Singapura, untuk mendirikan suatu
pusat perniagaan (trading factory) di
Singapura.
6
Februari 1819 : suatu perjanjian formal dibuat antara Sultan Hussein dari Johor
bersama Temenggong Abdur Rahaman, masing-masing adalah penguasa de jure dan de facto Singapura pada waktu iru, unruk meresmikan perjanjian awal
yang telah dibuat sebelumnya. Raffles kemudian menetapkan Singapura sebagai
bagian dari yurisdiksi Bengkulu, yang kemudian berada di bawah pemerintahan
Gubernur Jenderal Cakutta, India.
Maret
1824 : Status Singapura sebagai daerah kekuasaan Inggris ditegaskan dalam
perjanjian Anglo-Belanda (Anglo-Dutch
Treary) dan perjanjian penyerahaan kekuasaan (Treary of Cession). Belanda mencabut senua keberatannya terhadap
pendudukan Inggris atas Singapura dan menyerahkan Malaka, sebagai ganti
pelepasan penguasaan Inggris atas pabrik-pabrik di Bengkulu dan Sumatera kepada
Belanda. Kemudian, dalam tahun yang sama, perjanjian kedua dibuat dengan Sultan
Hussein dan Temenggong Abdur Rahman, berdasarkan keputusan Kesultanan Johor
untuk menyerahkan Singapura kepada Inggris sebagai ganti peningkatan pembayaran
uang tunai dan pensiun.[9]
2.
Thailand
Islam
datang ke Thailand dengan perantaraan pedagang yang berasal dari Arab dan
India. Para pedagang yang berasal dari Arab dan India disebut Khek Islam (pedagang muslim) oleh
penduduk setempat. Para perdagang tersebut meminta kepada raja Siam untuk
mendirikan masjid, permohonan mereka dikabulkan oleh raja maka didirikan masjid
Bangkok Noi (Bangkok kecil). Islam
disebarkan di Siam melalui hubungan dagang dan perkawinan.
Asep
Ahmad Hidayat yang dikutip Jaih Mubarok menjelaskan bahwa sebelum tahun 1801.
Wilayah Thailand merupakan wilayah Kesultanan Patani Darussalam (Patani Raya)
yang meliputi Patani (Thailand Selatan), Trengganu, dan Kelantan (Malaysia).
Pada tahun1901, wilayah tersebut dikuasai oleh Kerajaan Thailand. Berdasarkan
perjanjian 1902, wilayah Kesultanan Patani Darussalam dipecah menjadi dua,
yaitu Patani dimasukkan ke dalam wilayah Thailand, sedangkan Trengganu dan
Kelantan dimasukkan ke dalam wilayah Kolonial Inggris. Sekarang, Trengganu dan
Kelantan merupakan negara bagian dari Malaysia. Peristiwa dimasukkannya wilayah
Patani secara resmi kedalam negara Thailand dan dihapuskannya system
Kesultanan, mendapatkan reaksi keras dari rakyat Patani pada waktu itu. Mereka
melakukan perlawanan senjata terhadap Kerajaan Thailand.
Pada
tahun 1903. Abdul Kadir (Raja Patani) melakukan gerakan dengan strategi
perlawanan umum untuk memancing tindakan-tindakan penindasan sehingga
melahirkan pemberontakan umum terhadap pemerintah Thailand, dan meminta campur
tangan asing, terutama dari Inggris di Malaka. Namun, usaha pemberontakan itu
dapat ditumpaskan oleh Kerajaan Thailand. Gerakan-gerakan berikutnya adalah :
a) Perlawanan yang menuntut kemerdekaan dari Thailand dibawah pimpinan Totae
(1901). b) Perlawanan terhadap pemerintahan dengan cara memboikot pembayaran
pajak yang dipimpin oleh Haji Bula (1911). c) Pemberontakan yag dipimpin oleh
Raja Patani terakhir. Sultan Abdul Kadir Muhyidin, yang tinggal di Kelantan
Malaysia (1922).[10]
Isalm
masuk ke Patani diduga bukan berasal dari satu daerah, sebab beberapa pendapat
menyebutkan Islam tersebar ke Patani dari Arab, Cina, India, dan Persia,
kira-kira pada abad ke-10 M. kerajaan Pasai juga memainkan peran penting dalam
menyebarkan agama Islam ke Patani. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa madzhab
yang dianut serta tradisi-tradisi pengalaman keislaman orang-orang Patani hampir
sama dengan kerajaan Pasai.
Hikayat
Patani mengisahkan tentang seorang ulama Pasai yaitu Syekh Said yang telah
mengislamkan raja dan para pembesar Patani secara langsung untuk memenuhi
janji-janji yang dibuat ketika Raja Patani sakit, ia diobati oleh dukun istana,
tetapi tidah juga sembuh. Akhirnya ada seorang ulama Pasai bernama Syekh Su’aib
memberi kesanggupan untuk mengobatinya, tetapi dengan syarat apabilah sembuh,
raja mesti memeluk agama Islam.
Kisah
pengislaman Raja Patani jelas menggambarkan hasil usaha seorang ulama Pasai
yang bernama Syekh Su’aib. Kenyataan sejarah menceritakan bahwa raja dan
pembesar Patani memeluk agama Islam pada tahun 1457 M, sedangkan rakyat sudah
ada yang beragama Islam sejak 300 tahun sebelumnya. Setelah Raja Patani resmi
memeluk agama Islam, namanya berubah menjadi Sultan Ismail Syah. Keislamannya
diikuti oleh keluarga dan pembesar kerajaan secara damai. Agama Islam
berkembang luas di seluruh Patani dan berkembang menjadi agama resmi. Walaupun
agama Islam sudah masuk ke Patani sejak abad ke-10 M, agama Islam baru berdiri
teguh menjelang abad ke-15 dan awal abad ke-16 M, yaitu setelah jatuhnya
kerajaan Malaka. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Islam masuk ke Patani
bukan hanya berasal dari satu tempat karena warna keislaman dan corak budaya
kehidupan masyarakat Patani yang sangat kompleks, yaitu mengandung unsure-unsur
Arab, India, Persia, dan Cina. Diantara beberapa negara tersebut ada hubungan
perdagangan melalui perairan Patani sebelum lahirnya Islam.[11]
3.
Myanmar
Negara
Myanmar dulu dikenal sebagai Birma atau Burma, karena sejak 1972 menyebut
negaranya dengan nama Republik Sosialis Uni Burma (Dyadaungan Socialist
Thammada Myanma Nainnggnan). Namun sejak 18 juni 1989, secara resmi menukar
nama negara, dari Burma menjadi Myanmar, dan ibukotanya, dari Rangoon menjadi
Yangon. Negara ini secara geografis terletak di ekor anak benua India, di
sebelah barat berbatasan dengan laut Andaman, sebelah utara dengan India,
sebelah timur dengan Cina, dan sebelah selatan dengan Thailand. Penduduk
Myanmar terdiri dari 75% etnis Burma yang tinggal di Lembah Delta Sungai
Irawadi, 9% etnis Karen, dan 7% etnis Shan. Di bagian barat tinggal beberapa
kelompok etnis Chinese yang merupakan pendatang terbesar.
Islam
sampai ke Burma melalui beberapa jalan. Para pedagang Arab menetap di garis
pantai negeri ini selama abad I tahun Hijriyah (abad VII Masehi), atau
sesudahnya. Pada awalnya mereka menempati kawasan disekitar pantai Arakan, dan
kemudian ke selatan. Lebih belakangan, para pedagang India dan Melayu telah
efektif dalam menyebarkan Islam. Akhirnya para pengungsi dari Yunan pada abad
XIX menetap di bagian utara negeri itu. Menurut sejarawan, para pelaut muslim
telah datang ke Burma pada abad IX. Pada 860 M, para pengelana dari Cina
menemukan daerah koloni Persia di perbatasan Yunan. Seorang pelancong Persia.[12]
Suatau
negara Islam didirikan di Arakan ketika Sultan Bengal yang beragama Islam,
Nasseeruddeen Mahmud Syah (1442-1459), membantu raja Sulaiman Naramitha
membangun negara Islam. Pemerintahan muslim berlangsung beberapa abad di Arakan
dan meluas ke selatan hingga mencapai Moulmein pada masa pemerintahan Sultan
Salim Shah Rasagri (1593-1612 M). kejatuhan kesultanan Yunnan di bawah
pemerintahan Sultan Sulaiman pada 1873 ke tangan tentara kekaisaran China
mendorong menculnya gelombang baru pendatang Cina ke bagian utara Burma guna
mencari suaka politik.
Masyarakat
muslim Burma (penduduk asli yang masuk Islam pada periode awal) pada mulanya
berkembang di pusat kerajaan lama dan di Lembah Irawadi bagian tengah, di
sekitar Mandalay.[13]
4.
Filipina
Islam
di Filipina merupakan salah satu kelompok minoritas di antara negara lain.
Statistic demografi tahun 1877 menyebutkan masyarakat Filipina berjumlah
44.300.000 jiwa, sedangkan jumlah masyarakat muslim 2.348.000 jiwa. Dengan
persentase 5,3% dengan unsure dominan komunitas Mindanao dan Mongondiano. Hal
itu pastinya tidak lepas dari sejarah latar belakang Islam di negeri Filipina.
Bahkan, bukan hanya penjajahan, melainkan juga konflik internal yang masih berlanjut
sampai saat ini.
Sejarah
masuknya Islam ke wilayah Filipina selatan, khususnya kepulauan Sulu dan
Mindanao. Disebutkan bahwa salah satu pelaku islamisasi di Filipina pada abad
ke-14 adalah seorang tabib dan ulama Arab bernama Karimul Makhdum. Selainya
Raja Baguinda yang tercatat sebagai orang pertama yang menyebarkan ajaran Islam
di kepualauan tersebut. Menurut catatan sejarah, Raja Baguinda adalah seorang
pangeran dari Minangkabau (Sumatera Barat).[14]
Secara
umum, gambaran masuknya Islam di Filipina melalui beberapa fase, dari
penjajahan sampai masa modern, yaitu sebagai berikut :
a. Masa Kolonial Spanyol (Spain)
Sejak masuknya orang-orang Spanyol ke
Filipina, pada 16 Maret 1521 M, penduduk pribumi telah mencurigai adanya maksud
lain di balik “ekspedisi ilmiah” Ferdinand de Magellans. Ketika kolonial
Spanyol menaklukkan wilayah utara dengan mudah dan tanpa perlawanan yang
berarti, penduduk wilayah selatan melakukan perlawanan sangat gigih, berani,
dan pantang menyerah. Tentara colonial Spanyol harus bertempur untuk mencapai
Mindanao-Sulu (Kesultanan Sulu takluk pada tahun 1876 M).[15]
b. Masa Hegemoni Amerika Serikat
Sekalipun
gagal menundukkan Mindanao dan Sulu, Spanyol tetap menganggap kedua wilayah itu
sebagai bagian dari teritorialnya. Secara sepihak, Spanyol menjual Filipina
kepada Amerika Serikat US$ 20 juta pada tahun 1898 M melalui Traktat Paris.
Amerika datang ke Minandanao dengan penampilan sebagai sahabat baik dan
dipercaya.
5.
Vietnam
Masuk
dan berkembangnya Islam di Vietnam khususnya Islam pada awal tahap, tidak bisa
dilepaskan dari kehadiran kerajaan dan etnis Campa, uraian tentang Islam di
Vietnam diawali dengan uraian sejarah kerajaan Campa Kuno dan etnis Campa.
Campa, menurut literature China dari negeri bernama Lin Yin (yang muncul pada
192 M) terletak di bagian tengah Vietnam. Kerajaan Campa mempunyai hubungan
diplomatic dengan kerajaan-kerajaan tetangganya dengan Cina dan Vietnam di
utara, Kamboja di barat, dan Nusantara di selatan.[16]
Pada
1471 raja Vietnam Le Tanh Tong menyerang Campa besar-besaran, dan menghancurkan
Vijaya, membunuh 40.000 penduduk, mengusir lebih dari 30.000 lainnya dari bumi
Campa. Selanjutnya yang bertahan adalah sisa-sisa kerajaan Campa belahan
selatan, yaitu Kauthara dan Panduranga, yang diperintah oleh Bo Tri Tri dan
pengganti-penggantinya. Kerajaan Campa mulai menerima kebudayaan Melayu serta
Islam, yang masuk melalui pelabuhan Panduranga dan Kuthara, dan meningkatkan
hubungan-hubungan dengan negeri-negeri di Melayu dan Nusantara. Bahkan
dikabarkan bahwa raja Campa yang bernama Po Klau Halu (1579-1603) sudah memeluk
Islam dan pernah mengirim tentaranya untuk membantu Sultan Johor di Semenanjung
Malaka untuk berperang menentang Portugis pada 1511.
Masyarakat
muslim Vietnam biasanya dibedakan menjadi dua kategori, pertama, masyarakat muslim pendatang yang berkembang di kota-kota
besar, seperti Ho Chi Minh (dahulu Saigon), Tay Ninh dan An Giang, yang
berbatasan dengan Kamboja. Mereka kebanyakan dari pedagang dan pengusaha dari
berbagai negara. Kedua, masyarakat
muslim Cam, yang merupakan penduduk lokal dan komunitas muslim tertua yang
menempati pesisir Vietnam tengah, di Annam Lama, wilayah Thun Hai, Phan Rang
dan Nha Trang.
Setelah
Vietnam masuk era baru dan politik terbuka, umat Islam juga ikut menikmati
perubahan politik tersebut: baik secara internal, dalam bentuk semakin
terbukanya keagamaan dan pulihnya posisi sosial umat Islam; maupun ekternal,
relasi yang dimilikinya dengan dunia internasional, khususnya hubungan dengan
kelompok Cam di Kamboja dan pusat Islam di Asia Tenggara.[17]
6.
Kamboja
Sejarah
Kamboja berawal sejak abad II SM, dengan muncul kerajaan Fu Nan yang telah
beragama Hindu. Pada 802 M, Jayavarman II mendirikan Kerajaan Khmer, sejak awal
abad X, Kamboja berpusat di Angkor (Yashodarapura). Dalam abad XII, Kamboja
mencapai puncak kemakmurannya. Namaun, penyerbuan bangsa Thai mengakhiri
kejayaan Khmer. Pada 1859, raja Norodom naik tahta. Kemudian pada 1863, Kamboja
dijadikan protektorat Perancis dan kemudian menjadi colonial Perancis.[18]
Masuk
dan berkembangnya Islam di Kamboja tidak dapat dipisahkan dengan datangnya
orang Campa di negeri ini. Hal ini karena orang Campa telah memeluk Islam di
negara asalnya di Vietnam tengah, sebelum kemudian menyebarkan ke Kamboja.
Seperti diuruaikan sebelumnya, banyak orang Campa yang telah meninggalkan tanah
airnya karena desakan Nam Tien atau pergerakan orang-orang Vietnam selatan.
Gelombang imingrasi Campa di Kamboja selepas 1471, ketika itu Vietnam menduduki
Vijaya, gelombang berikutnya selepas 1697, Vietnam menduduki Panduranga, dan
terakhir karena mengalami siksaan luar biasa 1832. Migrasi Campa terjadi karena
melarihkan diri dari Nusantara terjadi karena perdagangan dan penyebara Islam.
Kedua etnis yang berbeda ini bersatu dalam satu agama, yakni Islam di sebuah
negara asing bernama Kamboja. Karena persamaan nasib dan agama, akhirnya kedua
etnis ini bekerjasama dan menjalani hubungan perkawinan, sehingga menghasilkan
etnis baru disebut Melayu-Campa.[19]
Semasa
Rezim Pol Lot dari Khmer Merah (1975-1979), beribu-ribu orang Kamboja disiksa
dan dibunuh karena dianggap bekerjasama dengan Lon Nol atau karena alasan agama
yang dianutnya, walaupun Khmer Merah hanya memerintah selama empat tahu, tetapi
akibat yang ditimbulkannya dari aspek budaya mengakibatkan banyak rakyat Khmer
Islam dan Melayu-Campa yang sudah tidak mengenal lagi agamannya dan tidak lagi
tahu baca-tulis Arab dan Campa. Pol Lot berhasil mengikis habis identitas
keislaman dan budaya Campa orang-orang Melayu-Campa. Barulah setelah kejatuhan
rezim Pol Pot dan kemudian diperintahkan oleh Hum Sen dan Raja Sihanouk,
masyarakat Melayu-Campa atau Khmer Islam kembali merasakansedikit kemerdekaan
beragama. Masjid sudah difungsikan dan demikian pula madrasah-madrasah.
7.
Timor Leste
Timor
Leste mempunyai nama lengkap Republik Demokratik Timor Leste, dan disebut juga
Timur Lorosa’e. Negara yang sebelum merdeka bernama Timor Portugis dan Timor
Timur, ini terletak di bagian timur pulau Timor. Selain itu, wilayah negara ini
juga meliputi pulau Kambing atau Atauro, Jaco, dan Enclave Oecussi-Ambeno di
Timor Barat. Timor Leste secara resmi merdeka pada 20 mei 2002. Sebutan Timor
“Leste” sendiri merupakan istilah Portugis dari wilayah tersebut, sedangkan
“Lorosa’e” berasal dari bahasa Tetun, yang artinya maju.[20]
Masuk
dan berkembangnya Islam di Timor Leste tidak bisa dipisahkan dari kedatangan-kedatangan
pedagang Arab dari Yaman dan Hadramaut ke wilayah Nusantara. Terdapat
kantong-kantong pemukiman pedagang Arab di banyak kota pelabuhan Nusantara,
mulai dari Aceh sampai ke Ternate dan Tidore. Menurut catatan, kedatangan
pedagang Arab yang pertama di Timor Timur adalah Abdullah Afif, yang
diperkirakan menetap di Dili sebelum 1512. Menurut kedatang dari H. Abdullah
Basyarewan (ketua II MUI Timor Timur), ketika kapal Portugis datang di Dili
pada 1512, kedatangannya di pelabuhan disambut pemuka masyarakat Dili, antara
lain pemuka Arab bernama Abudllah Afif. Artinya, Abdullah Afif sudah datang
sebelum 1512. Kemudian diikuti oleh Habib Umar Muhdlar sekitar 1678.
Menurut
beberapa catatan, para pedagang Arab datang dari Selat Malak, Aceh, Jawa terus
ke Maluku, kemudian ke Sorong, Kepala Burung (Irian Barat), dan ke Morotai
kemudian akhirnya ke Timor. Diperkirakan sejak itu penduduk Timor sudah ada
yang memeluk agama Islam, hal ini terbukti pada benda-benda keagamaan (bahkan
al-qur’an ukuran mini 2.5 x 2 cm) atau upacara tradisional yang berasal dari
tradisi keislaman. Dan rumah ibadah sederhana pertama didirikan dikampung Arab
(Desa Lecidere) pada sekitar 1712, yang digunakan untuk seluruh keperluan
peribadatan dan pertemuan umat Islam di Dili.[21]
BAB III
PENUTUP
E.
Kesimpulan
Penyebaran
Islam di Asia Tenggara melalui perkembangan pelayaran dan perdagangan
internasional yang terbentang jauh dari Teluk Persia sampai China melalui Selat
Malaka, itu kelihatan sejalan pula dengan muncul dan berkembang kekuasaan
besar. Proses masuk dan berkembangnya Islam di Asia Tenggara karena Islam masuk
ke Asia Tenggara disebarluaskan melalui kegiatan perdagangan kaum Arab, India,
China, Gujarat, dan Persia. Begitu pula dari para ulama Sufi. Hal ini berbeda
dengan daerah Islam di dunia lainnya yang disebarluaskan dengan penaklukan atau
peperangan.
Pengaruh
politik Islam semakin kuat serta posisi ekonomi semakin berkembang, akibat
pelayaran internasional dengan pedagang muslim Arab membuat pemerintah para
penjajah pada saat itu tergoda untuk menjalin hubungan dengan penguasa pedagang
di Asia Tenggara. Perkembangan keagamaan dan peradaban disebabkan Islam dibawa
oleh kaum pedagang maupun para Da’I dan ulama masa awal, mereka semua
menyiarkan dan mengajarkan ajaran Islam.
DAFTAR PUSTAKA
-
Supriyadi. Dedi, 2008. Sejarah Peradaban Islam. CV. Pustaka
Setia, Bandung.
-
Yakub. M, 2015. Sejarah Peradaban Islam Pendekatan
Periodesasi. Perdana Publishing, medan.
-
Hidayat Ahmad
Asep, 2014. Studi Islam Di Asia Tenggara.
Pustaka Setia, Bandung.
-
Bazher A.
Ambarak, 1995. Islam di Timor Timur.
Gema Insani Press, Jakarta.
[1]
M. Yakub, dkk, Sejarah Peradaban Islam
Pendekatan Periodesasi, (Medan : Perdana Publishing, 2015), hal : 140.
[2]
Ibid, hal : 141-142.
[3]
Dedi Supriyadi, Sejarah Perabadan Islam,
(Bandung : Pustaka Setia, 2008), hal :
230-231.
[4]
M. Yakub, dkk, Sejarah Peradaban Islam
Pendekatan Periodesasi, (Medan : Perdana Publishing, 2015), hal : 145-146.
[5] Ibid,
hal : 147-148.
[7]
M. Yakub, dkk, Sejarah Peradaban Islam
Pendekatan Periodesasi, (Medan : Perdana Publishing, 2015), hal : 148.
[8]
Asep Ahmad Hidayat, Studi Islam di Asia
Tenggara, (Bandung : Pustaka Setia, 2014), hal : 64.
[9]
Dedi Supriyadi, Sejarah Perabadan Islam,
(Bandung : Pustaka Setia, 2008) hal :
215.
[10]
Ibid, hal : 211.
[11]
M. Yakub, dkk, Sejarah Peradaban Islam
Pendekatan Periodesasi, (Medan : Perdana Publishing, 2015), hal : 153.
[12]
Ibid, hal : 154.
[13]
Ibid, hal : 155-156, 160.
[14]
Ibid, hal : 161.
[15]
Ibid, hal : 162
[16]
Ibid, hal : 166-167.
[17]
Ibid, hal : 168-168
[18]
Ibid, hal : 170
[19]
Ibid, hal : 171-172
[20] M. Yakub, dkk, Sejarah Peradaban Islam Pendekatan Periodesasi, (Medan : Perdana
Publishing, 2015), hal : 177-178.
[21]
Ambarak A. Bazher, Islam di Timor Timur,
(Jakarta : Gema Insani Press, 1995), hal : 70-71.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar