Selasa, 12 Desember 2017

Sejarah Peradaban Islam Di Asia Tenggara



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Islam masuk ke Asia Tenggara disebarluaskan melalui kegiatan kaum pedagang dan para sufi. Hal ini berbeda dengan daerah Islam di dunia lainnya yang disebarluaskan melalui penaklukan Arab dan Turki. Islam masuk di Asia Tenggar dengan jalan damai, terbuka dan tanpa pemaksaan sehingga Islam sangat mudah diterima masyarakat Asia Tenggara.
Mengenai kedatangan Islam di negara-negara yang ada di Asia Tenggara hampir semuanya didahului oleh interaksi antara masyarakat di wilayah kepulauan dengan para pedagang Arab, India, Bengal, China, Gujarat, Iran, Yaman, dan Arabia Selatan. Pada abad ke-5 sebelum Masehi kepulauan Melayu menjadi tempat persinggahan para pedagang yang berlayar ke China dan mereka telah menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar pesisir. Kondisi seperti inilah yang dimanfaatkan para pedagang Muslim yang singgah untuk menyebarkan Islam pada warga sekitar pesisir.
Asia Tenggara sebagai wilayah yang paling banyak pemeluk agama Islam. Termasuk wilayah ini adalah pulau-pulau yang terletak di sebelah timur India sampai lautan China dan mencangkup Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
Namun proses masuknya Islam di negara-negara bagian Asia Tenggara tidak sepenuhnya sama. Semuanya memiliki karakterisitik masing-masing budaya yang sama sekali berbeda, ada juga negara yang sudah menggunakan tradisi Islam ala Persia dan Islam ala Arab. Oleh karena itu muncullah beberapa hal yang melatarbelakangi proses berkembangnya Islam di Asia Tenggara melalui proses saluran, diantaranya saluran perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, seni, dan politik.


BAB II
PEMBAHASAN

B.    Peradaban  Islam Di Asia Tenggara

Asia Tenggara adalah wilayah yang dilalui oleh ekuator dan sebagian bentangannya tertutup oleh hutan rimba tropis serta hamparan dataran rendahnya terletak di jalur aliran dan delta sungai besar. Bila dilihat dari segi geopolitik, saat ini Asia Tenggara terdiri atas 11 negara yakni : Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam, Myanmar, Vietnam, Laos, Kamboja, dan Timor Leste (timor-timur). Sepuluh diantaranya telah resmi menjadi anggota ASEAN, sedang Timor Leste masih menjadi anggota peninjau.

C.    Negara-negara Mayoritas Muslim

1.     Malaysia
Malaysia dengang ibu kotanya Kuala Lumpur, memiliki luas wilayah seluas 32.370 km2. Secara birokrasi, Kepala Negara Malaysia dikenal dengan istilah yang Dipertuan Agung serta pemerintahannya dekepalai oleh Perdana Mentri. Sebagai negara persekutuan, Malaysia baru terbentuk pada tahun 1963 dengan model pemerintahan yang mirip dengan system parlemen Westminister.
Suku Melayu merupakan suku dengan populasi terbesar di Malaysia atau sekitar 61% dari total jumlah penduduk, sehingga bahasa Melayu dan agama Islam masing-masing menjadi bahasa dan agama resmi negara.Islam masuk di Malaysia pada abad ke-9 melalui Malaka, berkat jasa para pedagang dari Gujarat yang mempunyai semngat tinggi dalam menyiarkan dan mengembangkan Islam. Kerajaan-kerajaan Melayu, dalam sejarah dikenal sebagai kerajaan Islam, juga berperan dalam masuknya Islam di Malaysia.[1]
Namun menurut Hamka, ada tiga teori masuknya Islam di Malaysia. Teori-teori tersebut berkenaan dengan asal usul pendakwah yang menyebutkan agama Islam serta proses yang dilalui sehingga penyebaran Islam dirasa sangat berkesan. Teori pertama, Hamka cenderung berpendapat bahwa agama Islam telah diperkenalkan di wilayah ini pada awal abad Hijriah (abad ke-7 M). Pendapat ini berdasarkan kajian yang dilakukan dengan merujuk sumber Cina, dan bersandar pada tulisan seorang sarjana Barat, yaitu T.W. Arnold yang mengaitkan penyebaran Islam dengan peranan para pedagang Arab. Teori kedua, yaitu para penyebar Islam menurut T.W. Arnold tidak datang sebagai penaklukdengan menggunakan pedang untuk menyebarkan Islam, sebagaimana yang terjadi di wilayah Timur Tengah, Asia Selatan dan Afrika. Mereka juga tidak menguasai hak-hak penguasa untuk menekan rakyat. Teori ketiga, yaitu proses perubahan kebudayaan tidak akan berlaku jika tidak ada titik-titik kesamaan yang saling menghubungkan. Begitu juga yang terjadi pada Islam dan kebudayaan Malaysia. Seandainya Islam menghapuskan segala kebudayaan dan tradisi yang wujud sebelumnya mungkin tidak akan menemukan tempat untuk memasuki pulau-pulau di kawasan ini.
Menurut sejarah Malaysia lain, Islam masuk ke Malaysia sebelum abad ke-12. Hal ini berbeda dengan pendapat penulis Barat yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Malaysia sekitar abad ke-13 atau ke-14. Penulis Malaysia mendasarkan pendapatnya pada mata uang dinar emas yang ditemukan di Klantan tahun 1914. Bagian pertama mata uang itu bertuliskan al-julus Kelantan dan angka arab 577 H, yang bersamaan dengan 1161 M. bagian kedua bertuliskan al-Mutawakkil,gelar pemerintahan Kelantan. Jika dilihat batu nisan tua bertuliskan bahasa Arab ditemukan ke Kedah tahun 1963 pada makam Syekh Abdul Kadir bin Syekh Husen Syah Alam (w.291 H). Sekitar tahun 1276 M, pada masa Sultan Muhammad Syah bertahta di Malaka, datang sebuah kapal dari Jeddah yang dipimpin kapten kapal yang bernama Sidi Abdul Aziz, seorang ulama Islam. Sidi Abdul Aziz menganjurkan Raja Malaka saat itu yang telah diIslamkan mengganti namanya menjadi Sultan Muhammad Syah. Bukti lain mengenai perkembangan Islam di Malaysia dapat dilihat pula pada peninggalan sejarah di pertengahan abad ke-10 dan ke-15 misalnya,ketika itu Brunei masih bergabung dengan Malaysia, salah satu sumber menyebutkan ada enam mesjid di Malaysia dan ditemukan batu nisan silsilah keturunan raja-raja Brunei.[2]

2.     Brunei
Perkebangan Islam di Brunei tidak bisa terlepas dari Indonesia-yang mayoritas madzhab Syafi’i. Hal itu terlihat dari madzhan resmi Negara tersebut, yaitu madzhab Syafi’i. pengaruh yang nyata terhadap Negara Brunei adalah perkembangan Islam yang terjadi di Kalimantan sebagai dijelaskan diawal. Bagi muslim Brunei, hokum Islam sangat berpengaruh, terutama hukum keluarga yang bersumber pada madzhab Syafi’i (tiga madzhab sunni lainnya setelah disetuji oleh sultan, tradisi kuno, dan tradisi Melayu). Selain itu, secara fakta sejarah, Negara Brunei adalah jajahan Inggris yang memberikan pengaruh besar terhadap konstitusi hukum di Negara tersebut. Hal iti terbukti dari konstitusi Negara yang dibuat pada tahun 1959 dipengaruhi oleh inggris dengan system common law, terutama system peradilan yang mengadopsi system inggris sejak tahun 1955. Pengaruh itu tidak hanya pada konstitusi negara, tetapi pada konstitusi atau undang-undang hukum Islam sampai Brunei merdeka secarah penuh dari Inggris pada tahun 1984. 
“selama kurun waktu abad ke-5 dan ke-16, negara Brunei menguasai pulau Borneo dan beberapa pulau Kalimantan dan Filipina. Ekspansi Eropa yang datang dari Spanyol dan Belanda, sejak abad ke-16 mencaplok sebagai wilayah Brunei. Pada Abad ke-19, Brunei mencari bantuan ke Inggris dalam mempertahankan sebagian wilayah tersebut. Sampai akhirnya, beberapa bagian negara Brunei dikuasai dan diatur oleh Inggris yang diformalkan pada tahun 1906. Konstitusi ditegakkan pada tahun 1959 yang memberikan izin pengaturan saecara internal dan menetapkan lembaga legislatif yang diatur oleh Inggris. Persetujuan berakhir pada tahun 1971 bahwa Brunei bebas dari protokoler Inggris sampai negara tersebut merdeka pada tahun 1984.”
Meskipun demikian, ketentuan hukum Islam yang mulai diundangkan pada tahun 1912 antara Brunei dan Inggris dengan nama The Mohammedan Laws Enactmen 1912, didasarkan pada kedua tradisi negara tersebut dan hukum Islam. Perundangan ini meliputi aspek hukum keluarga dan kriminal dan yurisdiksi hakim. Selanjutnya, diikuti dengan The Mohammed Marriage and Divorce Enactmen 1913 yang mengatur tentang pendaftaran perkawinan dan perceraian melalui hakim pengadilan. Kedua Undang-undang tersebut tidak berlaku lagi.[3]

Namun, Islam baru resmi dijadikan sebgai agama negara 500 tahun kemudian semenjak Raja Awang Alak Betatar yang semula beragama Hindu-Budha masuk Islam dan berganti nama menjadi Muhammad Syah (1406-1408). Sebagaimana yang tercatum dalam batu Tarsilah atau prasasti dari abad ke-18 M, perkembangan Islam semakin pesat ketika kepemimpinan dipegang oleh Syarif Ali, menantu Raja Awang, yang diangkat menjadi sultan ke-3 Brunei Darussalam pada tahun 1425. Sebagai raja dan ulama, Syarif Ali gigih memperjuangkan Islam dengan membangun masjid dan penerapan hukum Islam. Begitu pula ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis (1511) sehingga banyak ahli agama Islam pindah ke Brunei.kemajuan dan perkembangan Islam semakin nyata pada pemerintahan Sultan Bolkiah (sultan ke-5), yang wilayahnya meliputi Suluk, Selandung, Kepulauan Suluk, Kepulauan Balabac sampai ke Manila.
Pendapat lain mengatakan bahwa agama Islam masuk ke Brunei pada abd ke-15. Sejak itu, Kerajaan Brunei berubah menjadi kesultanan Islam. Pada abad ke-16, Brunei tergolong kuat di wilayahnya, dan daerah kekuasaanya meliputi pula beberapa pulau di Filipna Selatan.[4]
Pada masa Sultan Hassan (sultan ke-9 tahun 1582-1598), masyarakat Muslim di Brunei memiliki institusi-institusi pemerintahan agama. Hal tersebut karena agama pada saat tersebut dianggap memiliki peran penting dalam memandu negara Brunei kearah kesejahteraan. Pada saat pemerintahan Hassan, undang-undang Islam, yaitu hukum / qanun yang terdiri atas 46 pasal dan 6 bagian.
Pada tahun 1658, Sultan Brunei menghadiahkan kawasan timur laut Kalimantan kepada Sultan Sulu di Filipina Selatan sebagai penghargaan terhadap Sultan Sulu dalam menyelesaikan perang saudara di antara Sultan Abdul Mubin dan Pangeran Mohidin. Persengketaan dalam kerajaan Brunei merupakan salah satu faktor yang menyebabkan jatuhnya kerajaan tersebut, yang bersumber dari pergolakan akibat perebutan kuasa antara ahli waris kerajaan, juga timbulnya pengaruh kuasa penjajah Eropa yang menggugat corak perdagangan tradisi, serta memusnahkan asas ekonomi dan kesultanan Asia Tenggara yang lain.[5]

D.    Negara-negara Minoritas Muslim

1.     Singapura
Secara historis, sejak ditemukan oleh Sir Thomas Raffles dari British East India Company pada tahun 1819 hingga kemerdekaanya pada tahun 1965, perkembangan hukum Singapura sangat berhubungan erat dengan majikan kolonial Inggrisnya. Seringkali, tradisi-tradisi hukum, kebiasaan-kebiasaan, kasus-kasua hukum, dan perundang-undangan menurut hukum Inggris diserap tanpa banyak pertimbangan apakah hal tersebut cocok dengan keadaan setempat Singapura.[6]
Namun belum ada satu teori pasti yang dapat menjelaskan secara lengkap dan menyakinkan bagaimana proses pengislaman di Singapura. Proses yang berlaku serta situasi dan faktor-faktor lokal yang ditemui menyebabkan timbulnya perbedaan dalam tingkat penetrasi Islam di berbagai wilayah di Asia Tenggara. Menurut perkiraan, Islam masuk ke Singapura pada abag ke-8 ketika pedagang muslim aktif berdagang di Malaka. Hal tersebut didasarkan pada temuan bahwa para pedagang muslim telah sampai ke Kanton, Cina, yang sebelumnya bermukim di pulau-pulau yang telah berpenduduk di semenanjung tanah Melayu. Di samping sebagai pedagang, para muslim ini menjadi guru agama serta imam di tengah-tengah kelompok masyarakat setempat. Mereka mengajarkan Al-Qur’an dan mendirikan madrasah-madrasah sehingga orang-orang kampung senang ada kegiatan semacam itu, dan tidak sedikit dari mereka yang pada akhirnya menikah dan memperintis penduduk setempat.[7]
Singapura yang saat ini berpenduduk 2.800.000 jiwa, sejak akhir abad ke-14 sampai pada tahun 1511 M, menjadi wilayah bagian dari kerajaan Malaka. Parameswara yang semula beragama Hindu, yang diusir Majapahit dari Tumasik kemudian mendirikan kerajaan Malaka (1396-1414) dan merebut kembali daerah Tumasik (Singapura). Akibat hubungan intim dengan pedagang-pedagang Muslim, Parameswara memeluk agama Islam dan bergelar Sultan Iskandar Syah.[8]
Awal abad ke-19, Singapura berada dibawah kekuasaan Sultan Johor, yang menetap di kepulauan Riau-Lingga. Kombinasi tradisi Melayu dan hukum adat (yaitu hukum dan kebiasaan tradisional yang secara lokal berlaku di Indonesia dan Malaysia) telah membentuk dasar bagi system hukum awal yang berlaku bagi masyarakat nelayan pada waktu itu yang jumlahnya tidak lebih dari 200 orang.
29 Januari 1819, pendirian Singapura modern oleh Raffles, yang pada saat itu menjabat Letnan-Gubernur Bengkulu. Raffles sanggup meramal ke depan dan menentukan bahwa Singapura merupakan lokasi yang strategis secara geopolitics. Hal ini menjadikan Singapura sebagai kontrol yang sangat baik bagi Kerajaan Inggris untuk mengawasi gerbang masuk menuju Selat Malaka dan rute pelayaran utama antara Asia Selatan dan Asia Timur Laut secara cepat, Singapura telah ber-revolusi menjadi pelabuhan dagang yang penting.
30 Januari 1819 : Raffles membuat suatu perjanjian awal dengan Temenggong Abdur Rahman, perwakilan Sultan Johor di Johor dan Singapura, untuk mendirikan suatu pusat perniagaan (trading factory) di Singapura.
6 Februari 1819 : suatu perjanjian formal dibuat antara Sultan Hussein dari Johor bersama Temenggong Abdur Rahaman, masing-masing adalah penguasa de jure dan de facto Singapura pada waktu iru, unruk meresmikan perjanjian awal yang telah dibuat sebelumnya. Raffles kemudian menetapkan Singapura sebagai bagian dari yurisdiksi Bengkulu, yang kemudian berada di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Cakutta, India.
Maret 1824 : Status Singapura sebagai daerah kekuasaan Inggris ditegaskan dalam perjanjian Anglo-Belanda (Anglo-Dutch Treary) dan perjanjian penyerahaan kekuasaan (Treary of Cession). Belanda mencabut senua keberatannya terhadap pendudukan Inggris atas Singapura dan menyerahkan Malaka, sebagai ganti pelepasan penguasaan Inggris atas pabrik-pabrik di Bengkulu dan Sumatera kepada Belanda. Kemudian, dalam tahun yang sama, perjanjian kedua dibuat dengan Sultan Hussein dan Temenggong Abdur Rahman, berdasarkan keputusan Kesultanan Johor untuk menyerahkan Singapura kepada Inggris sebagai ganti peningkatan pembayaran uang tunai dan pensiun.[9]
2.     Thailand
Islam datang ke Thailand dengan perantaraan pedagang yang berasal dari Arab dan India. Para pedagang yang berasal dari Arab dan India disebut Khek Islam (pedagang muslim) oleh penduduk setempat. Para perdagang tersebut meminta kepada raja Siam untuk mendirikan masjid, permohonan mereka dikabulkan oleh raja maka didirikan masjid Bangkok Noi (Bangkok kecil). Islam disebarkan di Siam melalui hubungan dagang dan perkawinan.
Asep Ahmad Hidayat yang dikutip Jaih Mubarok menjelaskan bahwa sebelum tahun 1801. Wilayah Thailand merupakan wilayah Kesultanan Patani Darussalam (Patani Raya) yang meliputi Patani (Thailand Selatan), Trengganu, dan Kelantan (Malaysia). Pada tahun1901, wilayah tersebut dikuasai oleh Kerajaan Thailand. Berdasarkan perjanjian 1902, wilayah Kesultanan Patani Darussalam dipecah menjadi dua, yaitu Patani dimasukkan ke dalam wilayah Thailand, sedangkan Trengganu dan Kelantan dimasukkan ke dalam wilayah Kolonial Inggris. Sekarang, Trengganu dan Kelantan merupakan negara bagian dari Malaysia. Peristiwa dimasukkannya wilayah Patani secara resmi kedalam negara Thailand dan dihapuskannya system Kesultanan, mendapatkan reaksi keras dari rakyat Patani pada waktu itu. Mereka melakukan perlawanan senjata terhadap Kerajaan Thailand.
Pada tahun 1903. Abdul Kadir (Raja Patani) melakukan gerakan dengan strategi perlawanan umum untuk memancing tindakan-tindakan penindasan sehingga melahirkan pemberontakan umum terhadap pemerintah Thailand, dan meminta campur tangan asing, terutama dari Inggris di Malaka. Namun, usaha pemberontakan itu dapat ditumpaskan oleh Kerajaan Thailand. Gerakan-gerakan berikutnya adalah : a) Perlawanan yang menuntut kemerdekaan dari Thailand dibawah pimpinan Totae (1901). b) Perlawanan terhadap pemerintahan dengan cara memboikot pembayaran pajak yang dipimpin oleh Haji Bula (1911). c) Pemberontakan yag dipimpin oleh Raja Patani terakhir. Sultan Abdul Kadir Muhyidin, yang tinggal di Kelantan Malaysia (1922).[10]


Isalm masuk ke Patani diduga bukan berasal dari satu daerah, sebab beberapa pendapat menyebutkan Islam tersebar ke Patani dari Arab, Cina, India, dan Persia, kira-kira pada abad ke-10 M. kerajaan Pasai juga memainkan peran penting dalam menyebarkan agama Islam ke Patani. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa madzhab yang dianut serta tradisi-tradisi pengalaman keislaman orang-orang Patani hampir sama dengan kerajaan Pasai.
Hikayat Patani mengisahkan tentang seorang ulama Pasai yaitu Syekh Said yang telah mengislamkan raja dan para pembesar Patani secara langsung untuk memenuhi janji-janji yang dibuat ketika Raja Patani sakit, ia diobati oleh dukun istana, tetapi tidah juga sembuh. Akhirnya ada seorang ulama Pasai bernama Syekh Su’aib memberi kesanggupan untuk mengobatinya, tetapi dengan syarat apabilah sembuh, raja mesti memeluk agama Islam.
Kisah pengislaman Raja Patani jelas menggambarkan hasil usaha seorang ulama Pasai yang bernama Syekh Su’aib. Kenyataan sejarah menceritakan bahwa raja dan pembesar Patani memeluk agama Islam pada tahun 1457 M, sedangkan rakyat sudah ada yang beragama Islam sejak 300 tahun sebelumnya. Setelah Raja Patani resmi memeluk agama Islam, namanya berubah menjadi Sultan Ismail Syah. Keislamannya diikuti oleh keluarga dan pembesar kerajaan secara damai. Agama Islam berkembang luas di seluruh Patani dan berkembang menjadi agama resmi. Walaupun agama Islam sudah masuk ke Patani sejak abad ke-10 M, agama Islam baru berdiri teguh menjelang abad ke-15 dan awal abad ke-16 M, yaitu setelah jatuhnya kerajaan Malaka. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Islam masuk ke Patani bukan hanya berasal dari satu tempat karena warna keislaman dan corak budaya kehidupan masyarakat Patani yang sangat kompleks, yaitu mengandung unsure-unsur Arab, India, Persia, dan Cina. Diantara beberapa negara tersebut ada hubungan perdagangan melalui perairan Patani sebelum lahirnya Islam.[11]




3.     Myanmar
Negara Myanmar dulu dikenal sebagai Birma atau Burma, karena sejak 1972 menyebut negaranya dengan nama Republik Sosialis Uni Burma (Dyadaungan Socialist Thammada Myanma Nainnggnan). Namun sejak 18 juni 1989, secara resmi menukar nama negara, dari Burma menjadi Myanmar, dan ibukotanya, dari Rangoon menjadi Yangon. Negara ini secara geografis terletak di ekor anak benua India, di sebelah barat berbatasan dengan laut Andaman, sebelah utara dengan India, sebelah timur dengan Cina, dan sebelah selatan dengan Thailand. Penduduk Myanmar terdiri dari 75% etnis Burma yang tinggal di Lembah Delta Sungai Irawadi, 9% etnis Karen, dan 7% etnis Shan. Di bagian barat tinggal beberapa kelompok etnis Chinese yang merupakan pendatang terbesar.
Islam sampai ke Burma melalui beberapa jalan. Para pedagang Arab menetap di garis pantai negeri ini selama abad I tahun Hijriyah (abad VII Masehi), atau sesudahnya. Pada awalnya mereka menempati kawasan disekitar pantai Arakan, dan kemudian ke selatan. Lebih belakangan, para pedagang India dan Melayu telah efektif dalam menyebarkan Islam. Akhirnya para pengungsi dari Yunan pada abad XIX menetap di bagian utara negeri itu. Menurut sejarawan, para pelaut muslim telah datang ke Burma pada abad IX. Pada 860 M, para pengelana dari Cina menemukan daerah koloni Persia di perbatasan Yunan. Seorang pelancong Persia.[12]
Suatau negara Islam didirikan di Arakan ketika Sultan Bengal yang beragama Islam, Nasseeruddeen Mahmud Syah (1442-1459), membantu raja Sulaiman Naramitha membangun negara Islam. Pemerintahan muslim berlangsung beberapa abad di Arakan dan meluas ke selatan hingga mencapai Moulmein pada masa pemerintahan Sultan Salim Shah Rasagri (1593-1612 M). kejatuhan kesultanan Yunnan di bawah pemerintahan Sultan Sulaiman pada 1873 ke tangan tentara kekaisaran China mendorong menculnya gelombang baru pendatang Cina ke bagian utara Burma guna mencari suaka politik.
Masyarakat muslim Burma (penduduk asli yang masuk Islam pada periode awal) pada mulanya berkembang di pusat kerajaan lama dan di Lembah Irawadi bagian tengah, di sekitar Mandalay.[13]
4.     Filipina
Islam di Filipina merupakan salah satu kelompok minoritas di antara negara lain. Statistic demografi tahun 1877 menyebutkan masyarakat Filipina berjumlah 44.300.000 jiwa, sedangkan jumlah masyarakat muslim 2.348.000 jiwa. Dengan persentase 5,3% dengan unsure dominan komunitas Mindanao dan Mongondiano. Hal itu pastinya tidak lepas dari sejarah latar belakang Islam di negeri Filipina. Bahkan, bukan hanya penjajahan, melainkan juga konflik internal yang masih berlanjut sampai saat ini.
Sejarah masuknya Islam ke wilayah Filipina selatan, khususnya kepulauan Sulu dan Mindanao. Disebutkan bahwa salah satu pelaku islamisasi di Filipina pada abad ke-14 adalah seorang tabib dan ulama Arab bernama Karimul Makhdum. Selainya Raja Baguinda yang tercatat sebagai orang pertama yang menyebarkan ajaran Islam di kepualauan tersebut. Menurut catatan sejarah, Raja Baguinda adalah seorang pangeran dari Minangkabau (Sumatera Barat).[14]
Secara umum, gambaran masuknya Islam di Filipina melalui beberapa fase, dari penjajahan sampai masa modern, yaitu sebagai berikut :
a.      Masa Kolonial Spanyol (Spain)
  Sejak masuknya orang-orang Spanyol ke Filipina, pada 16 Maret 1521 M, penduduk pribumi telah mencurigai adanya maksud lain di balik “ekspedisi ilmiah” Ferdinand de Magellans. Ketika kolonial Spanyol menaklukkan wilayah utara dengan mudah dan tanpa perlawanan yang berarti, penduduk wilayah selatan melakukan perlawanan sangat gigih, berani, dan pantang menyerah. Tentara colonial Spanyol harus bertempur untuk mencapai Mindanao-Sulu (Kesultanan Sulu takluk pada tahun 1876 M).[15]
b.     Masa Hegemoni Amerika Serikat
Sekalipun gagal menundukkan Mindanao dan Sulu, Spanyol tetap menganggap kedua wilayah itu sebagai bagian dari teritorialnya. Secara sepihak, Spanyol menjual Filipina kepada Amerika Serikat US$ 20 juta pada tahun 1898 M melalui Traktat Paris. Amerika datang ke Minandanao dengan penampilan sebagai sahabat baik dan dipercaya.
5.     Vietnam
Masuk dan berkembangnya Islam di Vietnam khususnya Islam pada awal tahap, tidak bisa dilepaskan dari kehadiran kerajaan dan etnis Campa, uraian tentang Islam di Vietnam diawali dengan uraian sejarah kerajaan Campa Kuno dan etnis Campa. Campa, menurut literature China dari negeri bernama Lin Yin (yang muncul pada 192 M) terletak di bagian tengah Vietnam. Kerajaan Campa mempunyai hubungan diplomatic dengan kerajaan-kerajaan tetangganya dengan Cina dan Vietnam di utara, Kamboja di barat, dan Nusantara di selatan.[16]
Pada 1471 raja Vietnam Le Tanh Tong menyerang Campa besar-besaran, dan menghancurkan Vijaya, membunuh 40.000 penduduk, mengusir lebih dari 30.000 lainnya dari bumi Campa. Selanjutnya yang bertahan adalah sisa-sisa kerajaan Campa belahan selatan, yaitu Kauthara dan Panduranga, yang diperintah oleh Bo Tri Tri dan pengganti-penggantinya. Kerajaan Campa mulai menerima kebudayaan Melayu serta Islam, yang masuk melalui pelabuhan Panduranga dan Kuthara, dan meningkatkan hubungan-hubungan dengan negeri-negeri di Melayu dan Nusantara. Bahkan dikabarkan bahwa raja Campa yang bernama Po Klau Halu (1579-1603) sudah memeluk Islam dan pernah mengirim tentaranya untuk membantu Sultan Johor di Semenanjung Malaka untuk berperang menentang Portugis pada 1511.
Masyarakat muslim Vietnam biasanya dibedakan menjadi dua kategori, pertama, masyarakat muslim pendatang yang berkembang di kota-kota besar, seperti Ho Chi Minh (dahulu Saigon), Tay Ninh dan An Giang, yang berbatasan dengan Kamboja. Mereka kebanyakan dari pedagang dan pengusaha dari berbagai negara. Kedua, masyarakat muslim Cam, yang merupakan penduduk lokal dan komunitas muslim tertua yang menempati pesisir Vietnam tengah, di Annam Lama, wilayah Thun Hai, Phan Rang dan Nha Trang.
Setelah Vietnam masuk era baru dan politik terbuka, umat Islam juga ikut menikmati perubahan politik tersebut: baik secara internal, dalam bentuk semakin terbukanya keagamaan dan pulihnya posisi sosial umat Islam; maupun ekternal, relasi yang dimilikinya dengan dunia internasional, khususnya hubungan dengan kelompok Cam di Kamboja dan pusat Islam di Asia Tenggara.[17]
6.     Kamboja
Sejarah Kamboja berawal sejak abad II SM, dengan muncul kerajaan Fu Nan yang telah beragama Hindu. Pada 802 M, Jayavarman II mendirikan Kerajaan Khmer, sejak awal abad X, Kamboja berpusat di Angkor (Yashodarapura). Dalam abad XII, Kamboja mencapai puncak kemakmurannya. Namaun, penyerbuan bangsa Thai mengakhiri kejayaan Khmer. Pada 1859, raja Norodom naik tahta. Kemudian pada 1863, Kamboja dijadikan protektorat Perancis dan kemudian menjadi colonial Perancis.[18]
Masuk dan berkembangnya Islam di Kamboja tidak dapat dipisahkan dengan datangnya orang Campa di negeri ini. Hal ini karena orang Campa telah memeluk Islam di negara asalnya di Vietnam tengah, sebelum kemudian menyebarkan ke Kamboja. Seperti diuruaikan sebelumnya, banyak orang Campa yang telah meninggalkan tanah airnya karena desakan Nam Tien atau pergerakan orang-orang Vietnam selatan. Gelombang imingrasi Campa di Kamboja selepas 1471, ketika itu Vietnam menduduki Vijaya, gelombang berikutnya selepas 1697, Vietnam menduduki Panduranga, dan terakhir karena mengalami siksaan luar biasa 1832. Migrasi Campa terjadi karena melarihkan diri dari Nusantara terjadi karena perdagangan dan penyebara Islam. Kedua etnis yang berbeda ini bersatu dalam satu agama, yakni Islam di sebuah negara asing bernama Kamboja. Karena persamaan nasib dan agama, akhirnya kedua etnis ini bekerjasama dan menjalani hubungan perkawinan, sehingga menghasilkan etnis baru disebut Melayu-Campa.[19]
Semasa Rezim Pol Lot dari Khmer Merah (1975-1979), beribu-ribu orang Kamboja disiksa dan dibunuh karena dianggap bekerjasama dengan Lon Nol atau karena alasan agama yang dianutnya, walaupun Khmer Merah hanya memerintah selama empat tahu, tetapi akibat yang ditimbulkannya dari aspek budaya mengakibatkan banyak rakyat Khmer Islam dan Melayu-Campa yang sudah tidak mengenal lagi agamannya dan tidak lagi tahu baca-tulis Arab dan Campa. Pol Lot berhasil mengikis habis identitas keislaman dan budaya Campa orang-orang Melayu-Campa. Barulah setelah kejatuhan rezim Pol Pot dan kemudian diperintahkan oleh Hum Sen dan Raja Sihanouk, masyarakat Melayu-Campa atau Khmer Islam kembali merasakansedikit kemerdekaan beragama. Masjid sudah difungsikan dan demikian pula madrasah-madrasah.
7.     Timor Leste
Timor Leste mempunyai nama lengkap Republik Demokratik Timor Leste, dan disebut juga Timur Lorosa’e. Negara yang sebelum merdeka bernama Timor Portugis dan Timor Timur, ini terletak di bagian timur pulau Timor. Selain itu, wilayah negara ini juga meliputi pulau Kambing atau Atauro, Jaco, dan Enclave Oecussi-Ambeno di Timor Barat. Timor Leste secara resmi merdeka pada 20 mei 2002. Sebutan Timor “Leste” sendiri merupakan istilah Portugis dari wilayah tersebut, sedangkan “Lorosa’e” berasal dari bahasa Tetun, yang artinya maju.[20]
Masuk dan berkembangnya Islam di Timor Leste tidak bisa dipisahkan dari kedatangan-kedatangan pedagang Arab dari Yaman dan Hadramaut ke wilayah Nusantara. Terdapat kantong-kantong pemukiman pedagang Arab di banyak kota pelabuhan Nusantara, mulai dari Aceh sampai ke Ternate dan Tidore. Menurut catatan, kedatangan pedagang Arab yang pertama di Timor Timur adalah Abdullah Afif, yang diperkirakan menetap di Dili sebelum 1512. Menurut kedatang dari H. Abdullah Basyarewan (ketua II MUI Timor Timur), ketika kapal Portugis datang di Dili pada 1512, kedatangannya di pelabuhan disambut pemuka masyarakat Dili, antara lain pemuka Arab bernama Abudllah Afif. Artinya, Abdullah Afif sudah datang sebelum 1512. Kemudian diikuti oleh Habib Umar Muhdlar sekitar 1678.
Menurut beberapa catatan, para pedagang Arab datang dari Selat Malak, Aceh, Jawa terus ke Maluku, kemudian ke Sorong, Kepala Burung (Irian Barat), dan ke Morotai kemudian akhirnya ke Timor. Diperkirakan sejak itu penduduk Timor sudah ada yang memeluk agama Islam, hal ini terbukti pada benda-benda keagamaan (bahkan al-qur’an ukuran mini 2.5 x 2 cm) atau upacara tradisional yang berasal dari tradisi keislaman. Dan rumah ibadah sederhana pertama didirikan dikampung Arab (Desa Lecidere) pada sekitar 1712, yang digunakan untuk seluruh keperluan peribadatan dan pertemuan umat Islam di Dili.[21]



BAB III
PENUTUP
E.    Kesimpulan

Penyebaran Islam di Asia Tenggara melalui perkembangan pelayaran dan perdagangan internasional yang terbentang jauh dari Teluk Persia sampai China melalui Selat Malaka, itu kelihatan sejalan pula dengan muncul dan berkembang kekuasaan besar. Proses masuk dan berkembangnya Islam di Asia Tenggara karena Islam masuk ke Asia Tenggara disebarluaskan melalui kegiatan perdagangan kaum Arab, India, China, Gujarat, dan Persia. Begitu pula dari para ulama Sufi. Hal ini berbeda dengan daerah Islam di dunia lainnya yang disebarluaskan dengan penaklukan atau peperangan.
Pengaruh politik Islam semakin kuat serta posisi ekonomi semakin berkembang, akibat pelayaran internasional dengan pedagang muslim Arab membuat pemerintah para penjajah pada saat itu tergoda untuk menjalin hubungan dengan penguasa pedagang di Asia Tenggara. Perkembangan keagamaan dan peradaban disebabkan Islam dibawa oleh kaum pedagang maupun para Da’I dan ulama masa awal, mereka semua menyiarkan dan mengajarkan ajaran Islam.  








DAFTAR PUSTAKA



-        Supriyadi. Dedi, 2008. Sejarah Peradaban Islam. CV. Pustaka Setia, Bandung.
-        Yakub. M, 2015. Sejarah Peradaban Islam Pendekatan Periodesasi. Perdana Publishing, medan.
-        Hidayat Ahmad Asep, 2014. Studi Islam Di Asia Tenggara. Pustaka Setia, Bandung.
-        Bazher A. Ambarak, 1995. Islam di Timor Timur. Gema Insani Press, Jakarta.


[1] M. Yakub, dkk, Sejarah Peradaban Islam Pendekatan Periodesasi, (Medan : Perdana Publishing, 2015), hal : 140.
[2] Ibid, hal : 141-142. 
[3] Dedi Supriyadi, Sejarah Perabadan Islam, (Bandung :  Pustaka Setia, 2008), hal : 230-231.
[4] M. Yakub, dkk, Sejarah Peradaban Islam Pendekatan Periodesasi, (Medan : Perdana Publishing, 2015), hal : 145-146.
[5]  Ibid, hal : 147-148.
[6] Dedi Supriyadi, Sejarah Perabadan Islam, (Bandung :  Pustaka Setia, 2008) hal : 215. 
[7] M. Yakub, dkk, Sejarah Peradaban Islam Pendekatan Periodesasi, (Medan : Perdana Publishing, 2015), hal : 148.
[8] Asep Ahmad Hidayat, Studi Islam di Asia Tenggara, (Bandung : Pustaka Setia, 2014), hal : 64.
[9] Dedi Supriyadi, Sejarah Perabadan Islam, (Bandung :  Pustaka Setia, 2008) hal : 215.
[10] Ibid, hal : 211.
[11] M. Yakub, dkk, Sejarah Peradaban Islam Pendekatan Periodesasi, (Medan : Perdana Publishing, 2015), hal : 153.
[12] Ibid, hal : 154.
[13] Ibid, hal : 155-156, 160.
[14] Ibid, hal : 161.
[15] Ibid, hal : 162
[16] Ibid, hal : 166-167.
[17] Ibid, hal : 168-168
[18] Ibid, hal : 170
[19] Ibid, hal : 171-172
[20]  M. Yakub, dkk, Sejarah Peradaban Islam Pendekatan Periodesasi, (Medan : Perdana Publishing, 2015), hal : 177-178.
[21] Ambarak A. Bazher, Islam di Timor Timur, (Jakarta : Gema Insani Press, 1995), hal : 70-71.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar