Senin, 11 Desember 2017

manajemen peliputan dan penyiaran



PEMBAHASAN
FUNGSI MEDIA PELIPUTAN DAN PENYIARAN

            Media merupakan saluran pembawa pesan dari sender untuk sampai ke receiver. Media pula yang menerjemahkan pesan-pesan tersebut agar bisa dicapai oleh khalayak. Cangara menyebut medium sebagai media yang merupakan alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima.
            Media massa adalah alat-alat yang digunakan dalam penyampaian pesan-pesan dari sumber kepada khalayak (menerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis, seperti surat kabar, radio, televisi, dll.[1]
            Perkembangan media komunikasi modern dewasa ini telah memungkinkan orang di  seluruh dunia untuk dapat saling berkomunikasi. Hal ini dimungkinkan karena adanya berbagai media (channel) yang dapat digunakan sebagai sarana penyampaian pesan. Media penyiaran, yaitu radio dan televisi merupakan salah satu bentuk media massa yang efisien dalam mencapai audiennya dalam jumlah yang sangat banyak. Karenanya media penyiaran memegang peranan yang sangat penting di dalam ilmu komunikasi pada umumnya dan khususnya ilmu komunikasi massa. 
            Para pengkaji melihat bahwa media massa seperti surat kabar, buku, radio, dan televisi dapat menjadi pemicu (trigger) perubahan, karena ia memiliki fungsi nyata (manifest) yang dapat digunakan dalam mendorong peningkatan kesejahteraan umat manusia.[2] Adapun fungsi-fungsi media peliputan dan penyiaran sebagai berikut:
1.    Media Untuk Menyampaikan Informasi (To Inform)
            Informasi merupakan pengumpulan, penyimpanan, pemrosesan, penyebaran berita, data, gambar, fakta, pesan, opini, dan komentar yang dibutuhkan agar dapat dimengerti dan bereaksi secara jelas terhadap kondisi lingkungan, maupun orang lain dan agar dapat mengambil keputusan yang tepat.[3]
            Fungsi informasi merupakan fungsi paling penting yang terdapat dalam komunikasi massa. Komponen paling penting untuk mengetahui fungsi informasi ini adalah berita-berita yang disajikan. Iklan pun dalam beberapa hal memiliki fungsi memberikan informasi di samping fungsi-fungsi yang lain.
            Manusia pada dasarnya memiliki sifat ingin tahu yang besar. Mereka ingin tahu apa yang terjadi di tengah masyarakat. Media komunikasi memberitahukan hal yang aktual maupun tidak kepada suatu objek sehingga objek tersebut mengetahui apa hal yang terjadi di sekitarnya, sehingga secara otomatis informasi-informasi yang disampaikan dapat menambah pengetahuan dan wawasan kepada khalayak, menunjukkan hubungan dengan pihak kekuasaan, memudahkan inovasi, adaptasi, dan kemajuan. Penyampaian informasi digunakan untuk mencari sesuatu yang baru maupun hal-hal yang berkenaan dengan masyarakat sekitarnya.[4]
            Selain itu, informasi yang disampaikan oleh media hendaknya sesuai dengan fakta (the facts), media massa menyediakan fasilitas arus informasi dari kedua belah pihak. Satu sisi mencerminkan kebutuhan dan keinginan pengirim dan sisi lain kebutuhan dan harapan penerima (berita, laporan dll),[5] agar khalayak memperoleh informasi yang jelas, lengkap, jujur, beretika, dan bermoral serta objektif, sehingga tidak timbul kesan seolah-olah itu “dipaksakan” dari atas ke bawah.[6]
            Disadari bahwa informasi membuka kita menjadi berpikir dan bergaya hidup tertentu, menciptakan iklim perubahan dengan memperkenalkan nilai-nilai baru untuk mengubah sikap dan perilaku ke arah modernisasi. Serta di sisi lain disadari pula bahwa kebebasan berpendapat dan menerima informasi merupakan nilai-nilai asasi suatu masyarakat demokratis.[7]
            Jadi, jika kita memperhatikan fungsi informasi di sini, maka setidaknya ada tiga makna yang dapat dilihat:
a)    Berupaya memberikan informasi yang relevan
b)   Menambah pengetahuan umum
c)    Media diharapkan dapat memberi informasi tentang sesuatu.[8]
            Adapun contoh program informasi televisi dan radio yang memiliki fungsi memberikan informasi ialah sebagai berikut:
            Program informasi adalah program yang bertujuan memberikan tambahan pengetahuan kepada penonton melalui informasi. Program informasi televisi terbagi dalam dua format, yaitu hard news dan soft news. Kedua jenis format program ini memiliki karakteristik berbeda satu sama lainnya, yaitu:
a)      Hard News (berita keras) adalah segala informasi penting dan menarik yang harus segera disiarkan oleh media penyiaran, karena sifatnya terikat waktu (time concern) agar diketahui oleh pemirsa secepatnya.[9] Peran televisi sebagai sumber utama hard news bagi masyarakat cenderung untuk terus meningkat. Media penyiaran adalah media yang paling cepat dalam menyiarkan berita kepada masyarakat. Dalam berita-berita mengenai konflik, televisi menjadi medium informasi yang paling dipercaya. Hal ini disebabkan televisi menyajikan gambar yang menjadi bukti yang tak terbantahkan. Pada umumnya stasiun televisi menginvestasikan dana dalam jumlah yang cukup besar untuk kegiatan pemberitaan dalam porsi waktu siaran yang cukup besar.[10]
Hard news dalam tiga kelompok, yaitu:
·         Straight News, disebut juga dengan warta berita atau straight newscast, yaitu berita yang singkat dengan hanya menyajikan informasi terpenting yang sedang terjadi di masyarakat. Metode penulisan ini berpedoman pada rumus 5W+1H. Rumus ini sudah menjadi standar para jurnalis dalam penulisan atau pembuatan berita, baik itu media cetak maupun media elektronik.
                 Berita yang disampaikan pada straight news umumnya adalah berita politik, ekonomi, dan hukum dengan menggunakan kalimat-kalimat yang pendek dan langsung pada pokok permasalahan. Karena straight news  ini merupakan time concern untuk berita-berita aktual disiarkan melalui teknikrunning text atau disebut juga news tiker, yaitu tulisan yang bergerak di bagian bawah frame pesawat televisi.
·         On the Spot Reporting adalah berita berupa laporan pandangan mata dari tempat kejadian yang disiarkan stasiun televisi. on the spot reportingsering dihubungkan dengan stand up reporting. Format siaran berita di mana reporter langsung didepan kamera melaporkan suatu kejadian, peristiwa, atau kondisi objek berita langsung dari tempat kejadian.
·         Interview On Air, merupakan wawancara dengan melihat langsung narasumber yang diwawancarai atau hanya mendengarkan suaranya, format program wawancara menjadi suatu program wawancara menjadi suatu program yang diminati penonton.
b)      Soft News (berita lunak) adalah segala informasi penting dan menarik yang disampaikan secara mendalam, namun tidak bersifat harus segera tayang (timeless).[11] Berita yang masuk kategori ini ditayangkan pada satu program tersendiri di luar program berita. Soft news dibagi dalam lima kelompok yaitu:
·         Current affair adalah “persoalan kekinian”. Current affair adalah program yang menyajikan informasi yang terkait dengan suatu berita penting yang muncul sebelumnya namun dibuat secara lengkap dan mendalam.
·         Magazine, diberi nama magazine karena topik atau tema yang disajikan mirip dengan topik-topik atau tema yang terdapat dalam suatu majalah (magazine). Magazine adalah program yang menampilkan informasi ringan namun mendalam atau dengan kata lain magazine adalah feature dengan durasi yang lebih panjang.
·         Dokumenter adalah program informasi yang bertujuan untuk pembelajaran dan pendidikan namun disajikan dengan menarik. Dokumenter juga merupakan program yang menyajikan cerita nyata, dilakukan pada lokasi sesungguhnya didukung narasi.
·         Talk show (perbincangan) adalah program yang menampilkan satu atau beberapa orang untuk membahas suatu topik tertentu yang dipandu oleh seorang pembawa acara (host).
·         Infotainment berasal dari kata information dan entertainment, yaitu informasi dan hiburan. Jadi, infotainment adalah program informasi yang menyajikan berita kehidupan orang-orang terkenal (celebrities) yang bekerja di industri hiburan.[12]
                        Sedangkan untuk radio, format informasi terbagi menjadi dua bagian, yaitu: dominasi berita (all news), misalnya terdiri atas (berita lokal, regional, nasional, dan internasional), laporan, feature, analisis, komentar.  Dominasi perbincangan (all talk atau talk news). Tujuan menyajikan acara informasi di radio antara lain menginformasikan materi berita/tips yang belum diketahui pendengar atau memberikan atensi ulang atau penekana atas topik tertentu bagi pendengar yang sudah membaca materi itu di koran atau media massa lainnya.[13]
2.  Media Untuk Iklan
            Iklan berasal dari bahasa Belanda advertentie, bahasa Inggris advertising. Kata iklan masih ada hubungannya dengan bahasa Arab dengan sebutan i’lan. Karena untuk menyesuaikan lidah orang Indonesia, sebutan i’lan menjadi iklan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, iklan adalah berita pesan (untuk mendorong, membujuk) kepada penonton ramai tentang benda dan jasa yang ditawarkan, atau pemberitahuan kepada penonton ramai mengenai barang atau jasa yang dijual, dipasang di dalam media massa.[14]
            Iklan juga merupakan suatu proses komunikasi massa yang melibatkan sponsor (tertentu), yakni si pemasang iklan (pengiklan), yang membayar jasa sebuah media massa atas penyiaran iklannya, misalnya melalui program siaran televisi.[15]
            Pesan dalam iklan umumnya disampaikan secara nonpersonal, tidak disampaikan dalam tatap muka tetapi penyampaiannya melalui media massa yang disebut media periklanan. Media yang digunakan oleh iklan ini dibagi dua kelompok, yaitu:
a)      Bellow the line (media lini bawah): iklan yang dilakukan secara mandiri oleh perusahaan yang bersangkutan tanpa bantuan biro iklan. Media yang masuk dalam kategori ini ialah pamphlet, poster, spanduk, baliho, dll.
b)      Above the line (media lini atas): istilah dalam periklanan yaitu iklan yang menggunakan media yang bersifat massa, maksudnya bahwa penonton sasaran iklan berjumlah besar, antara satu sama lainnya tidak saling kenal dan penerapan pesan iklan secara serempak. Media yang termasuk kategoriabove the line yaitu surat kabar, majalah, tabloid, televisi, radio, dan media online.
            Tapi kebanyakan iklan yang di tampilkan di media massa sekarang ini dikategorikan sebagai iklan komersial, yaitu iklan yang sering disebut sebagai iklan bisnis atau niaga, tujuannya untuk mendapat keuntungan ekonomi seperti peningkatan penjualan suatu produk.[16] Di radio sendiri, juga memiliki iklan-iklan yang disampaikan kepada pendengarnya berupa spot atau kemasan iklan, jinggel, dan bentuk-bentuk promosi acara radio lainnya.[17]
3.    Media Untuk Hiburan ( To Entertain)
            Fungsi hiburan untuk media elektronik menduduki posisi yang paling tinggi dibandingkan dengan fungsi-fungsi yang lain. Media berfungsi sebagai sarana hiburan, yang dapat memberikan kemudahan bagi setiap orang untuk menanggulangi masalah-masalah kehidupan mereka serta meminimalisir ketegangan-ketegangan sosial yang terdapat di dalam masyarakat.[18]
            Media juga memberikan hiburan atau kesenangan, sehingga seseorang maupun publik memperoleh selingan dari kejenuhan yang dialaminya karena tekanan-tekanan baik dalam pekerjaan, pergaulan dan lain-lain yang dialami dalam kehidupan sehari-hari.
            Fungsi komunikasi berupa to entertain ini, sebagian besar digunakan dalam media massa, baik itu televisi, radio, koran, dan sebagainya. Seperti yang telah dikemukakan Stephenson secara meyakinkan, hampir seluruh media massa itu umumnya melakukan fungsi hiburan.[19]
            Dalam media massa itu sendiri, banyak yang sudah membuat program-program khusus hiburan. Adapun program hiburan yaitu program yang berorientasi memberikan hiburan kepada penonton. Di mana nilai jurnalistiknya tidak diperlukan, tetapi jika ada unsur jurnalistiknya hanya sebagai pendukung.
            Adapun contoh Program hiburan khususnya di televisi terbagi dua, yaitu: program drama dan non drama.
a)      Non Drama
                        Naratama dalam bukunya “Menjadi Sutradara Televisi” menjelaskan bahwa program non drama merupakan format acara televisi yang diproduksi dan diciptakan melalui proses pengolahan imajinasi kreatif dari realitas kehidupan sehari-hari tanpa harus menginterpretasikan ulang dan tanpa harus menjadi dunia khayalan. Non drama bukanlah suatu runtutan cerita fiksi dari setiap pelakunya. Untuk itu format program non drama merupakan tuntutan pertunjukan kreatif yang mengutamakan unsur hiburan yang dipenuhi dengan aksi, gaya, dan musik. Format non drama yang terdiri dari hal-hal yang realistis serta sangat fleksibel.[20] Adapun format non drama dibagi dalam beberapa kategori, yaitu:
1.      Musik :
·         Video Klip
·         Live Musik
2.      Permainan :
·         Kuis
·         Games Show
3.      Reality Show :
·         Hidden Camera
·         Competition Show
·         Relation Show
·         Fly on the Wall
·         Mistik
4.      Pertunjukan :
·         Pantomim
·         Sulap
·         Tari
·         Fashion Show
·         Boneka dan Wayang
·         Demo Masak
5.  Lawak
6.  Talk Show.[21]

b)  Drama
                        Kemudian Naratama menjelaskan bahwa program drama merupakan suatu format acara televisi yang diproduksi dan diciptakan melalui proses imajinasi kreatif dari kisah-kisah drama atau fiksi yang direkayasa dan dikreasi ulang. Format yang digunakan merupakan interpretasi kisah kehidupan yang diwujudkan dalam suatu tuntutan cerita dalam sejumlah adegan.[22]
1.      Sinetron :
·         Drama Cerita                 
·         Drama Heroik                    
·         Drama Komedi
·         Drama Lagu
·         Drama Misteri
·         Drama Musik
·         Drama rumah tangga
·         Drama tari
2.      Film
3.      Kartun[23]
                        Sedangkan, hal ini sangat berbeda dengan media cetak. Media cetak biasanya tidak menempatkan hiburan pada posisi paling atas, tetapi informasi. Namun demikian, media cetak pun tetap harus memfungsikan hiburan. Gambar-gambar berwarna yang muncul disetiap halaman, adanya teka-teki dan cerita bergambar (cergam) menjadi beberapa ciri bahwa media cetak juga memberikan layanan hiburan. Hal itu pula mengapa, terbitan hari Minggu untuk harian sangat berbeda jauh dengan hari yang lain. Hari Minggu akan diisi rubrik-rubrik yang lebih menghibur.[24]
                        Di radio, format hiburan yang ada hanya format musik. Format musik merupakan format yang paling umum digunakan oleh hampir seluruh stasiun radio komersial. Musik-musik yang disajikan ke para pendengarnya juga sangat beragam, dari mulai lokal sampai internasional.[25]

4.    Media Untuk Pelayanan
            Media massa selalu memberikan pelayanan terbaik bagi kepentingan publiknya yang bertujuan memenuhi kebutuhan informasi, pendidikan, hiburan kepada publik. Dari semua fungsi dan tujuan media yang disebutkan di atas, yang pasti bahwa tujuan utamanya adalah memberikan pelayanan tontonan terbaik kepada masyarakat. Masyarakat atau publik sangatlah penting untuk menentukan sukses tidaknya suatu media tersebut. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Ron Rubin dan Stuart Avery Gold dalam bukunya berjudulDragon Spirit How to Self-Market Your Dream. Yaitu yang lebih penting dari bisnis, lebih penting dari produk atau jasa, lebih penting dari gaji, komputer, telepon, sewa, penerangan, peralatan, pinjaman, lebih penting daripada segalanya yakni perlu untuk menarik, mendapatkan, dan mempertahankan pelanggan.[26]
            Selain itu, media juga memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan cara media menjadi jembatan (penghubung) dalam menghubungkan bagian-bagian masyarakat dalam memberikan respon dan komentar akan setiap makna peristiwa dan informasi.[27]













PENUTUP
Kesimpulan
            Isi makalah tentang Fungsi media peliputan dan penyiaran dapat disimpulkan bahwasanya fungsi nyata (manifest) dari media massa itu ialah dapat menyampaikan pesan agar masyarakat dapat memperoleh informasi yang jelas, lengkap, jujur, beretika serta objektif, mengajarkan keterampilan baru, menciptakan iklim perubahan dengan memperkenalkan nilai-nilai baru untuk mengubah sikap dan perilaku ke arah modernisasi, serta dapat mendorong terjadinya perubahan sosial dalam suatu masyarakat, khususnya dalam hal peningkatan kesejahteraan hidup bangsa.
















DAFTAR PUSTAKA
Effendy, Onong Uchjana. 2011. Ilmu Komunikasi Teori & Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Hanafi, Abdillah. 1984. Memahami Komunikasi Antar Manusia. Surabaya: Usaha Nasional.
Kholil, Syukur. 2015. Isu-Isu Komunikasi Kontemporer. Medan: Perdana Publishing.
Latief, Rusman. 2015. Siaran Televisi Non-Drama Kreatif, Produktif, Public Relations, dan Iklan. Jakarta: Prenadamedia Group.
Morissan. 2008. Manajemen Media Penyiaran. Jakarta: Kencana.
Muda, Deddy Iskandar. 2005. Jurnalistik Televisi Menjadi Reporter Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Nasrullah, Rulli. 2012. Komunikasi Antarbudaya di Era Budaya siber. Jakarta: Kencana.
Nurudin. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Suhandang, Kustadi. 2010. Periklanan: Manajemen, Kiat dan Strategi. Bandung: Nuansa.
Unde, Andi Alimuddin. 2014. Televisi & Masyarakat Pluralistik. Jakarta: Prenada.






                [1] Rulli Nasrullah, Komunikasi Antarbudaya di Era Budaya siber, (Jakarta: Kencana, 2012), h. 42
                [2] Andi Alimuddin Unde, Televisi & Masyarakat, (Jakarta, Prenada Media, 2015). h. 84
                [3] Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori & Praktek, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), h. 27
                [4] Abdillah Hanafi, Memahami Komunikasi Antar Manusia, (Surabaya: Usaha Nasional, 1984), h. 34
                [5] Deddy Iskandar Muda, Jurnalistik Televisi Menjadi Reporter Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005), h. 10
                [6] Andi Alimuddin Unde, Televisi & Masyarakat. h. 88
                [7] Ibid., h. 86
                [8] Ibid., h. 86
                [9] Rusman Latief, Siaran Televisi Non-Drama Kreatif, Produktif, Public Relations, dan Iklan, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2015), h.79
                [10] Morissan, Manajemen Media Penyiaran, (Jakarta: Kencana, 2008), h. 209
                [11] Rusman Latief, Siaran Televisi, h. 38
                [12] Morissan, Manajemen Media, h. 211-212
                [13] Ibid., h. 223
                [14] Rusman Latief, Siaran Televisi, h. 215
                [15] Kustadi Suhandang, Periklanan: Manajemen, Kiat dan Strategi, (Bandung: Nuansa, 2010), h. 13
                [16] Rusman Latief, Siaran Televisi, h. 218
                [17] Morissan, Manajemen Media,  h. 221
                [18] Syukur Kholil, Isu-Isu Komunikasi Kontemporer, (Medan: Perdana Publishing, 2015), h. 19
                [19] Abdillah Hanafi, Memahami Komunikasi Antar Manusia, (Surabaya: Usaha Nasional, 1984), h. 34
                [20] Rusman Latief, Siaran Televisi, h. 7
                [21] Ibid., h. 8-10
                [22] Ibid., h. 27
                [23] Ibid., h. 31-33
                [24] Nurudin, Pengantar Komunikasi Massa, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2007), h. 71
                [25] Morissan, Manajemen Media, h. 223
                [26] Rusman Latief, Siaran Televisi, h. 55
                [27] Syukur Kholil, Isu-Isu, h. 19

Tidak ada komentar:

Posting Komentar